Perilaku Beliau dalam Kaum Beliau Sebelum Diutus
سِيْرَتُهُ فِي قَوْمِهِ قَبْلَ الْبِعْثَةِ
كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحْسَنَ قَوْمِهِ خُلُقًا، وَأَصْدَقَهُمْ حَدِيْثًا، وَأَعْظَمَهُمْ أَمَانَةً، وَأَبْعَدَهُمْ عَنِ الْفُحْشِ وَالْأَخْلَاقِ الَّتِي تُدَنِّسُ الرِّجَالَ، حَتَّى كَانَ أَفْضَلَ قَوْمِهِ مُرُوْءَةً، وَأَكْرَمَهُمْ مُخَالَطَةً، وَخَيْرَهُمْ جِوَارًا، وَأَعْظَمَهُمْ حِلْمًا، وَأَصْدَقَهُمْ حَدِيْثًا، فَسَمُّوْهُ الْأَمِيْنَ لِمَا جَمَعَ الله فِيْهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الصَّالِحَةِ الْحَمِيْدَةِ، وَالْفِعَالِ السَّدِيْدَةِ مِنَ الْحِلْمِ، وَالصَّبْرِ، وَالشُّكْرِ، وَالْعَدْلِ، وَالتَّوَاضُعِ، وَالْعِفَّةِ، وَالْجُوْدِ، وَالشَّجَاعَةِ، وَالْحَيَاءِ. حَتَّى شَهِدَ لَهُ بِذَلِكَ أَلَدُ أَعْدَائِهِ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ حَيْثُ يَقُوْلُ: قَدْ كَانَ مُحَمَّدٌ فِيْكُمْ غُلَامًا حَدَثًا، أَرْضَاكُمْ فِيْكُمْ وَأَصْدَقَكُمْ حَدِيْثًا وَأَعْظَمَكُمْ أَمَانَةً، حَتَّى إِذَا رَأَيْتُمْ فِي صَدَغَيْهِ الشَّيْبُ وَجَاءَكُمْ بِمَا جَاءَكُمْ قُلْتُمْ:
سَاحِرٌ! لَا وَالله مَا هُوَ بِسَاحِرٍ، قَالَ ذَلِكَ فِي مَعْرِضِ الْاتِّفَاقِ عَلَى مَا يَقُوْلُوْنَهُ لِلْعَرَبِ الَّذِيْنَ يَحْضُرُوْنَ الْمَوْسِمَ حَتَّى يَكُوْنُوْا مُتَّفِقِيْنَ عَلَى قَوْلٍ مَقْبُوْلٍ يَقُوْلُوْنَهُ. وَلَمَّا سَأَلَ هِرَقْلُ مَلِكُ الرُّوْمِ أَبَا سُفْيَانَ قَائِلًا: هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُوْنَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُوْلَ مَا قَالَ؟ قَالَ: لَا، فَقَالَ هِرَقْلُ: مَا كَانَ لِيَدَعَ الْكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى الله.
وُرِدَ ذَلِكَ فِي أَوَّلِ صَحِيْحِ الْبُخَارِيْ. وَقَدْ حَفِظَهُ الله فِي صِغَرِهِ مِنْ كُلِّ أَعْمَالِ الْجَاهِلِيَّةِ الَّتِي جَاءَ شَرْعُهُ الشَّرِيْفُ بِضِدِّهَا وَبُغِّضَتْ إِلَيْهِ الْأَوْثَانُ بُغْضًا شَدِيْدًا حَتَّى مَا كَانَ يَحْضُرُ لَهَا احْتِفَالًا أَوْ عِيْدًا مِمَّا يَقُوْمُ بِهِ عُبَّادُهَا. وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «لَمَّا نَشَأْتُ بُغِّضَتْ إِلَيَّ الْأَوْثَانُ، وَبُغِّضَ إِلَيَّ الشِّعْرُ، وَلَمْ أَهَمَّ بِشَيْءٍ مِمَّا كَانَتِ الْجَاهِلِيَّةُ تَفْعَلُهُ إِلَّا مَرَّتَيْنِ، كُلُّ ذَلِكَ يَحُوْلُ الله بَيْنِي وَبَيْنَ مَا أُرِيْدُ مِنْ ذَلِكَ.
ثُمَّ مَا هَمَمْتُ بِسُوْءٍ بَعْدَهُمَا حَتَّى أَكْرَمَنِيَ الله بِرِسَالَتِهِ. قُلْتُ لَيْلَةً لِغُلَامٍ كَانَ يَرْعَى مَعِي: لَوْ أَبْصَرْتَ لِي غَنَمِي حَتَّى أَدْخُلَ مَكَّةَ فَأُسَمِّرُ كَمَا يَسَمِّرُ الشَّبَابُ، فَخَرَجْتُ لِذَلِكَ حَتَّى جِئْتُ أَوَّلَ دَارٍ مِنْ مَكَّةَ أَسْمَعُ عَزَفًا بِالدُّفُوْفِ وَالْمَزَامِيْرِ لِعُرْسِ بَعْضِهِمْ، فَجَلَسْتُ لِذَلِكَ فَضَرَبَ الله عَلَى أُذُنَيَّ فَنِمْتُ فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا، ثُمَّ عَرَانِي مَرَّةً أُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ». وَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا يَأْكُلُ مَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَحَرَّمَ شُرْبَ الْخَمْرِ عَلَى نَفْسِهِ مَعَ شُيُوْعِهِ فِي قَوْمِهِ شُيُوْعًا عَظِيْمًا.
وَذَلِكَ كُلُّهُ مِنَ الصِّفَاتِ الَّتِي يُحَلِّيَ اللهُ بِهَا أَنْبِيَاءَهُ لِيَكُوْنُوا عَلَى تَمَامِ الْاِسْتِعْدَادِ لِتَلَقِّيِّ وَحْيِهِ، فَهُمْ مَعْصُوْمُوْنَ مِنَ الْأَدْنَاسِ قَبْلَ النُّبُوَةِ وَبَعْدَهَا: أَمَّا قَبْلَ النُّبُوَةِ فَلْيَتَأَهَّلُوْا لِلْأَمْرِ الْعَظِيْمِ الَّذِي سَيُسْنِدُ إِلَيْهِمْ. وَأَمَّا بَعْدَهَا فَلْيَكُوْنُوا قُدْوَةً لِأُمَمِهِمْ.
عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ أَفْضَلُ الصَّلَوَاتِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيْمَاتِ.
Perilaku Beliau dalam Kaum Beliau Sebelum Diutus
Muhammad adalah orang yang paling baik di antara kaumnya dalam masalah akhlak, paling jujur perkataannya, paling dipercaya, dan paling jauh dari perbuatan keji meskipun perilaku rendah telah membudaya pada masa itu. Selain itu, Muhammad adalah orang yang paling utama di antara kaumnya dalam hal memelihara harga diri, paling mulia di dalam bergaul, paling baik dalam bertetangga, paling besar rasa maafnya, dan paling jujur dalam berbicara: oleh sebab itu mereka menjulukinya sebagai Al-Amin (orang yang dipercaya). Hal itu berkat anugerah yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya berupa hal-hal yang baik lagi terpuji dan watak watak terpuji seperti penyantun, penyabar, bersyukur, adil, rendah diri, memelihara kehormatan diri, dermawan, pemberani, dan pemalu. Hal ter. sebut diakui oleh musuh bebuyutannya sendiri, yaitu AnNadhr ibnu. Harits dari kalangan Bani ‘Abdud-Dar. Ia pernah mengatakan kepada kaumnya, “Dahulu, ketika Muhammad masih remaja, kalian telah rela dengan keputusannya, dan dia adalah orang yang paling dipercaya per. kataannya di antara kalian. Ketika ia telah dewasa ia datang membawa berita kepada kalian, tetapi kalian mengatakannya sebagai seorang tukang tenung. Tidak, demi Allah, dia bukan seorang tukang tenung.” An-Nadhr ibnul-Harts menyatakan hal ini dalam sanggahannya terhadap apa yang telah dikatakan oleh orang-orang Arab terhadap diri Nabi saw., yang pada waktu itu sedang menghadiri musim haji sehingga akibatnya mereka mengakui apa yang dikatakannya.
Tatkala kaisar Romawi, Heraclius, bertanya kepada Abu Sufyan yang pada saat itu menjadi utusan Nabi saw. untuk menyampaikan pesannya, “Apakah kalian menuduhnya pernah melakukan kedustaan sebelum ia (Rasulullah saw.) mengatakan apa yang telah dikatakannya itu?” Abu Sufyan spontan menjawab, “Tidak.” Lalu Kaisar Heraclius berkata, “Sungguh, bila ia tidak membiarkan dirinya berbuat dusta terhadap manusia. maka ia pun tidak akan membiarkan dirinya berbuat dusta terhadap Allah.” Demikianlah menurut hadis yang dikemukakan oleh Imam Bukhari di dalam awal kitab Shahih-nya.
Allah swt. memelihara dirinya sejak ia masih kecil dari semua perbuatan jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran syariat” yang dibawanya kemudian. Sudah menjadi pembawaannya ia sangat benci kepada berhalaberhala sehingga ia sama sekali belum pernah menghadiri pesta atau perayaan yang biasa diselenggarakan oleh para penyembahnya. Rasulullah saw. pernah bercerita, “Tatkala aku masih kecil, aku mulai membenci berhala-berhala, dan aku pun benci terhadap syair (yang biasa diucapkan oleh orang-orang jahiliah), dan aku belum pernah mempunyai maksud untuk melakukan suatu perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliah kecuali hanya dua kali, tetapi sebelum kedua hal itu terjadi Allah swt. menghalang-halangi diriku melakukan perbuatan tersebut. Kemudian setelah peristiwa itu aku sama sekali tidak mempunyai maksud lagi untuk melakukan perbuatan jelek sehingga Allah memuliakan diriku dengan risalah-Nya.
“Pada suatu malam aku berkata kepada seorang teman yang samasama menggembala ternak denganku, “Tolong perhatikan domba gembalaanku ini dan jaga mereka, aku bermaksud memasuki kota Makkah dan ikut menonton pertunjukan sebagaimana layaknya pemuda-pemuda lainnya. Lalu aku keluar dari daerah pengembalaan untuk tujuan tersebut sehingga aku sampai di sebuah rumah yang terletak paling pinggir di kota Makkah. Ketika itu aku mulai mendengar suara musik rebana dan seruling untuk pesta perkawinan salah seorang dari mereka. Kemudian di tempat itu aku duduk beristirahat sambil mendengarkan suara musik tersebut, tetapi tiba-tiba Allah mendatangkan rasa kantuk yang sangat hingga aku tertidur pulas, dan baru pada keesokan harinya aku terbangun setelah merasakan sengatan panas matahari pagi. Aku tidak sempat menyaksikan pertunjukkan tersebut sama sekali: dan hal serupa pernah pula menimpa diriku pada kesempatan lain.”
Rasulullah saw. belum pernah memakan daging sembelihan yang disembelih untuk nushub ” sebagaimana ia pun mengharamkan atas dirinya khamar, padahal minuman khamar telah membudaya di kalangan kaumnya. Semuanya itu merupakan sifat-sifat yang dianugerahkan oleh Allah swt. kepada para nabi-Nya supaya mereka memiliki persiapan yang matang untuk menerima wahyu daripada-Nya. Para nabi semuanya dimaksum (dipelihara) dari perbuatan-perbuatan yang kotor dan buruk, baik sebelum mereka diangkat menjadi nabi maupun sesudahnya. Sebelum masa kenabian, hal tersebut dimaksudkan supaya mereka bersiap-siap menerima perkara yang agung yang kelak akan dipikulkan kepadanya. Sesudah masa kenabian, hal tersebut dimaksudkan supaya mereka menjadi teladan yang paling utama buat umatnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya yang paling utama dan paling sempurna kepada mereka.
