Kisah Sa'ad bin Abi Waqqash dengan Ibunya (Dakwah Secara Sembunyi Bag. 2)

 (وَمِنْهُمْ) : سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ مَالِكِ بْنِ أُهَيْبٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابٍ الْقُرَشِيُّ.

وَلَمَّا عَلِمَتْ أُمُّهُ حَمْنَةُ بِنْتُ أَبِي سُفْيَانَ بْنِ أُمَيَّةَ بِإِسْلَامِهِ قَالَتْ لَهُ: يَا سَعْدٌ بَلَغَنِي أَنَّكَ قَدْ صَبَّأْتَ فَوَ الله لَا يَظِلُّنِي سَقْفٌ مِنَ الْحَرِّ وَالْبَرْدِ وَإِنَّ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ عَلَيَّ حَرَامٌ حَتَّى تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ،

وَبَقِيَتْ كَذَلِكَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَجَاءَ سَعْدٌ إِلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَكَا إِلَيْهِ أَمْرَ أُمِّهِ فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ تَعْلِيْمًا، قَوْلُ الله تَعَالَى فِي سُوْرَةِ الْعَنْكَبُوْتِ:

( وَوَصَّيْنَا الْإِنْسانَ بِوالِدَيْهِ حُسْناً وَإِنْ جاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي ما لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُما إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ) وَصَّاهُ جَلَّ ذِكْرُهُ بِوَالِدَيْهِ وَأَمَرَهُ بِالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا مُؤْمِنَيْنِ كَانَا أَوْ كَافِرَيْنِ، أَمَّا إِذَا دَعَوَاهُ لِلْإِشْرَاكِ فَالْمَعْصِيَةُ مُتَحَتِّمَةٌ.

لِأَنَّ كُلَّ حَقٍّ، وَإِنْ عَظُمَ، سَاقِطٌ هُنَا فَلَا طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

ثُمَّ قَالَ: إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ مَنْ آمَنَ مِنْكُمْ وَمَنْ أَشْرَكَ فَأُجَازِيْكُمْ حَقَّ جَزَائِكُمْ.

وَفِي خِتَامِ هَذِهِ الْايَةِ فَائِدَتَانِ: التَّنْبِيْهُ عَلَى أَنَّ الْجَزَاءِ إِلَى اللهِ فَلَا تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِجَفْوَتِهِمَا لِإِشْرَاكِهِمَا، وَالْحَضُّ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّيْنِ لِئَلَّا يَنَالَ شَرَّ جَزَاءٍ فِي الْاُخْرَى.

(Dan di antara mereka) Saad bin Abu Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab al-Qurasyi. 

Tatkala ibunya yang bernama Hamnah binti Abu Sufyan mengetahui tentang keislamannya, ia berkata kepadanya, “Hai Saad, aku telah mendengar bahwa engkau telah memeluk agama yang baru (Islam). Demi Allah, tidak akan ada yang menaungiku dari panas maupun dingin dan makanan serta minuman ini haram atas diriku sehingga engkau kufur terhadap Muhammad.” 

Ibunya berbuat seperti itu selama tiga hari. Lalu Sa’d datang kepada Rasulullah saw. untuk mengadukan perihal ibunya itu. Turunlah sebagai pelajaran untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu kalamnya Allah taala dalam surat Al-Ankabut:

Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat berbuat kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Kulah kembali kalian, lalu Aku kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Q.S. 29 AlAnkabut: 8)

Allah swt. berwasiat kepada Saad tentang kedua orang tuanya, dan Dia memerintahkan supaya ia tetap berbuat baik kepada keduanya, baik mereka berdua mukmin ataupun kafir. Adapun jika keduanya mengajaknya untuk syirik, maka tidak taat adalah suatu kewajiban. 

Sebab sesungguhnya, betapa pun besarnya sebuah hak, ia menjadi gugur dalam kondisi ini. Tiada ketaatan bagi makhluk dalam kondisi maksiat terhadap Khaliqnya. 

Selanjutnya Allah swt. menegaskan, “Hanya kepada Akulah tempat kembali kalian" baik orang yang beriman beriman atau musyrik, maka Aku akan membalas kalian sesuai dengan pembalasan yang berhak kalian terima. 

Pada akhir ayat ini terkandung dua pelajaran, yaitu:

Pertama: Suatu peringatan yang menyatakan bahwa masalah pembalasan itu berada di tangan kekuasaan Allah, maka jangan sekali-kali engkau mempunyai niat untuk berlaku keras terhadap mereka berdua yang disebabkan oleh kemusyrikan mereka.

Kedua: Anjuran untuk tetap teguh dalam memegang agama dan iman supaya jangan mendapat balasan yang buruk kelak di akhirat.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url