Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi Bag. 1
الدَّعْوَةُ سِرًّا
فَقَامَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِالْأَمْرِ وَدَعَا لِعِبَادَةِ اللهِ أَقْوَامًا جُفَاةً لَا دِيْنَ لَهُمْ، إِلَّا أَنْ يَسْجُدُوا لِأَصْنَامٍ لَا تَنْفَعُ وَلَا تَضُرُّ، وَلَا حُجَّةَ لَهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ مُتَّبِعُوْنَ لِمَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُهُمْ، وَلَيْسَ عِنْدَهُمْ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ إِلَّا مَا كَانَ مُرْتَبِطًا بِالْعِزَّةِ وَالْأُنْفَةِ وَهُوَ الَّذِي كَانَ كَثِيْرًا مَا كَانَ سَبَبًا فِي الْغَارَاتِ وَالْحُرُوْبِ وَإِهْرَاقِ الدِّمَاءِ فَجَاءَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ بِمَا لَا يَعْرِفُوْنَهُ. فَذَوُو الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ بَادَرُوْا إِلَى التَّصْدِيْقِ وَخَلْعِ الْأَوْثَانِ، وَمَنْ أَعْمَتْهُ الرِّيَاسَةُ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ كَيْلَا تُسْلَبُ مِنْهُ عَظْمَتُهُ.
وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَطَعَ عَلَيْهِ نُوْرُ الْإِسْلَامِ خَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدَ زَوْجُهُ وَعَلِيُّ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ ابْنُ عَمِّهِ وَكَانَ مُقِيْمًا عِنْدَهُ يُطْعِمُهُ وَيَسْقِيْهِ وَيَقُوْمُ بِأَمْرِهِ، لِأَنَّ قُرَيْشًا كَانُوْا قَدْ أَصَابُوا مَجَاعَةً وَكَانَ أَبُوْ طَالِبٍ مُقِلًّا كَثِيْرَ الْأَوْلَادِ، فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِعَمِّهِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ: إِنَّ أَخَاكَ أَبَا طَالِبٍ كَثِيْرُ الْعِيَالِ، وَالنَّاسُ فِيْمَا تَرَى مِنَ الشِّدَّةِ، فَانْطَلِقْ بِنَا لِنُخَفِّفَ مِنْ عِيَالِهِ تَأْخُذُ وَاحِدًا وَأَنَا وَاحِدًا، فَانْطَلَقَا وَعَرَضَا عَلَيْهِ الْأَمْرَ، فَأَخَذَ الْعَبَّاسُ جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، وَأَخَذَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلِيًّا، فَكَانَ فِي كَفَالَتِهِ كَأَحَدِ أَوْلَادِهِ إِلَى أَنْ جَاءَتِ النُّبُوَّةُ وَقَدْ نَاهَزَ الْاِحْتِلَامَ، فَكَانَ تَابِعًا لِلنَّبِيِّ فِي كُلِّ أَعْمَالِهِ، وَلَمْ يَتَدَنَّسْ بِدَنَسِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَاتِّبَاعِ الْهَوَى، وَأَجَابَ أَيْضًا زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ بْنِ شُرَحْبِيْلَ الْكَلْبِيُّ مَوْلَاهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَكَانَ يُقَالُ لَهُ زَيْدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، لِأَنَّهُ لَمَّا اشْتَرَاهُ أَعْتَقَهُ وَتَبَنَّاهُ، وَكَانَ الْمُتَبَنَّى مُعْتَبَرًا كَابْنٍ حَقِيْقِيٍّ يَرِثُ وَيُوْرَثُ، وَأَجَابَتْ أَيْضًا أُمُّ أَيْمَنَ حَاضِنَتُهُ الَّتِي زَوَّجَهَا لِمَوْلَاهُ زَيْدٍ.
وَأَوَّلُ مَنْ أَجَابَهُ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ بَيْتِهِ أَبُوْ بَكْرٍ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ بْنِ عَامِرٍ بْنِ كَعْبٍ بْنِ سَعْدٍ بْنِ تَيْمِ بْنِ مُرَّةَ التَيْمِيِّ الْقُرَشِيِّ كَانَ صَدِيْقًا لِرَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ النُّبُوَّةِ يَعْلَمُ مَا اتَّصَفَ بِهِ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَلَمْ يَعْهَدْ عَلَيْهِ كَذِبًا مُنْذُ اصْطَحَبَا، فَأَوَّلَ مَا أَخْبَرَهُ بِرِسَالَةِ الله أَسْرَعَ بِالتَّصْدِيْقِ وَقَالَ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَهْلُ الصِّدْقِ أَنْتَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَأَنَّكَ رَسُوْلُ الله، كَانَ رَضِيَ الله عَنْهُ صَدْرًا مُعَظَّمًا فِي قُرَيْشٍ عَلَى سَعَةٍ مِنَ الْمَالِ وَكَرَمِ الْأَخْلَاقِ، وَكَانَ مِنْ أَعَفِّ النَّاسِ، سَخِيًّا، يَبْذُلُ الْمَالَ، مُحَبَّبًا فِي قَوْمِهِ حَسَنَ الْمُجَالَسَةِ، وَلِذَلِكَ كُلِّهُ كَانَ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْزِلَةِ الْوَزِيْرِ، فَكَانَ يَسْتَشِيْرُهُ فِي أُمُوْرِهِ كُلَّهَا، وَقَالَ فِي حَقِّهِ: (مَا دَعَوْتُ أَحَدًا إِلَى الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ كُبْوَةٌ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ). وَكَانَتِ الدَّعْوَةُ إِلَى الْإِسْلَامِ سِرًّا حَذَرًا مِنْ مُفَاجَأَةِ الْعَرَبِ بِأَمْرٍ شَدِيْدٍ كَهَذَا، فَيَصْعُبُ اسْتِسْلَامُهُمْ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا يَدْعُو إِلَّا مَنْ يَثِقُ بِهِ.
Arab sampai di sini
Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi
Kemudian Rasulullah saw. bangkit mengerjakan perintah Allah, yaitu menyeru kaum yang berhati keras dan tidak beragama untuk menyembah Allah swt. Mereka adalah kaum penyembah berhala yang tidak dapat memberikan manfaat atau mudarat kepada diri mereka, dan mereka tidak mempunyai hyijah dalam hal tersebut selain hanya mengikuti apa yang disembah oleh nenek-moyang mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki akhlak yang mulia selain hanya fanatisme dan kebanggaan belaka. Hal ini merupakan penyebab banyaknya timbul peperangan, saling menyerang di antara mereka, dan banjir darah. Kemudian Rasulullah saw. datang kepada mereka dengan membawa ajaran-ajaran syariat yang belum mereka ketahui. Adapun sikap orang-orang yang berakal sehat dari kalangan mereka bergegas menyambut seruannya dan mempercayainya serta meninggalkan penyembahan berhala. Adapun yang terlena oleh empuknya kursi kedudukan, ia berpaling dan bersikap takabbur supaya kursi kedudukannya tidak lepas dari tangannya.
Orang pertama yang menyambut seruannya adalah Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah saw. sendiri, dan sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib, anak paman Rasulullah. Pada waktu itu sahabat ‘Ali berada dalam asuhan dan jaminan Rasulullah saw. Kisahnya bermula pada saat orang-orang Quraisy terkena paceklik, sedangkan Abu Thalib tidak mampu karena anaknya banyak. Maka Rasulullah saw. berkata kepada Al-Abbas ibnu ‘AbdulMuththalib, pamannya yang lain, “Sesungguhnya saudara engkau, Abu Thalib, banyak anaknya, sedangkan sekarang ini seperti yang engkau lihat sendiri sedang musim paceklik. Marilah kita pergi kepada Abu Thalib untuk meringankan bebannya, engkau mengambil seorang di antara anakanaknya, dan aku pun akan mengambil seorang anaknya pula.” Lalu mereka berdua berangkat menuju ke rumah Abu Thalib. Keduanya langsurz mengemukakan maksudnya, dan Abu Thalib pun mau menerima usul mereka berdua. Akhirnya Al-Abbas mengambil Ja’far ibnu Abu-Thalib, sedangkan Rasulullah saw. mengambil sahabat ‘Ali untuk dipelihara dalam jaminannya dan diperlakukan sama dengan anak-anaknya yang lain. Ketika ia diangkat menjadi nabi, umur sahabat ‘Ali telah mencapai usia balig. Sahabat ‘Ali selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ia belum pernah mengotori dirinya dengan perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah seperti menyembah berhala dan mengikuti kemauan hawa nafsu. Selain itu, yang menyambut pula ajakan Rasulullah saw. adalah Zaid ibnu Haritsah ibnu Syurahbil al-Kalbiy, bekas hamba sahaya Rasulullah saw. sendiri. Zaid dikenal pula dengan nama Zaid ibnu Muhammad karena sewaktu Rasulullah saw. membelinya, dia langsung memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak angkat. Pada saat itu anak angkat kedudukannya sama dengan anak sendiri dalam arti kata ia dapat mewarisi dan diwarisi. Yang juga menyambut ajakannya ialah Ummu Ayman, bekas pengasuhnya, yang kemudian dinikahkannya dengan Zaid, bekas hamba sahaya tadi.
Orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah saw. yang bukan dari kalangan ahli baitnya (keluarga Rasulullah sendiri) ialah Abu Bakar ibnu Abu Quhafah ibnu ‘Amir ibnu Ka’b ibnu Sa’d ibnu Taim ibnu Murrah at-Taimi al-Qurasyi.
Dia adalah seorang sahabat bagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum masa kenabian. Dia mengetahui sifat-sifat yang beliau miliki berupa akhlak yang mulia dan belum pernah berkata dusta sejak mereka berteman.
Pada pertama kali beliau memberi tahu kepadanya tentang risalah Allah, ia langsung percaya dan berkata, “Demi ayah dan ibuku, orang yang paling jujur adalah engkau, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusan-Nya.”
Sahabat Abu Bakar r.a. termasuk orang terpandang dan dihormati di kalangan kaum Quraisy karena memiliki banyak harta dan kemuliaan akhlak. Ia termasuk orang yang paling menjaga diri, dermawan suka memberikan harta, dicintai oleh kaumnya, dan baik dalam bergaul. Karena sebab itu, ia di sisi Rasulullah saw. adalah seperti wakil. Rasulullah saw. selalu bermusyawarah dengannya dalam semua hal.
Rasulullah saw. pernah bersabda sehubungan dengan perihal Sahabat Abu Bakar r.a ini: "Aku belum pernah mengajak seseorang untuk masuk Islam melainkan masih menemui ganjalan padanya, terkecuali Abu Bakar."
Pada mulanya seruan Rasulullah saw. untuk mengajak mereka masuk Islam dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi karena khawatir orang-orang Arab menjadi kaget dengan adanya perkara yang berat ini, yang akibatnya sulit bagi mereka untuk masuk Islam. Rasulullah saw. tidak menyeru selain kepada orang-orang yang benar-benar dapat dipercaya.
Arti sampai di sini
Abu Bakar juga mengajak kepada Islam orang-orang yang dia percaya dengannya dari kalangan kabilah Quraisy. Beberapa orang menerima ajakannya:
Antara lain : ‘Utsman ibnu ‘Affan ibnul’Ash ibnu Umayah ibnu ‘Abdi Syams ibnu ‘Abdu Manaf al Umawiy al-Qurasyi.
Tatkala Al-Hakam, paman Sahabat ‘Utsman, mengetahui tentang keislamannya, maka ia mengikatnya dengan kuat, lalu berkata , “Apakah engkau benci dengan agama nenek-moyang engkau lalu engkau memeluk agama yang baru itu? Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu sehingga engkau meninggalkan apa engkau peluk itu.”
Lalu ‘Utsman menjawab” Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah daripadanya.” Setelah Al-Hakam melihat keteguhan hatinya dalam kebenaran, ia pun melepaskannya . Ia saat itu sudah dewasa mendekati 30 dari umurnya.
Antara lain juga: Az-Zubair ibnul’Awwam ibnu Khuwailid ibnu Asad ibnu ‘Abdul ‘Uzza ibnu Qushay alQurasyi. Ibunya adalah Shafiyah binti ‘Abdul-Muththalib.
Paman Az-Zubair selalu mengirim asap kepadanya sedangkan Az-Zubair dalam keadaan terikat agar ia kembali kepada agama nenek moyangnya. Allah swt. meneguhkan hatinya. Pada saat itu AzZubair masih remaja dan belum mencapai usia balig.
Antara lain juga: ‘Abdur-Rahman ibnu ‘Auf ibnu ‘Abdu ‘Auf ibnul-Harits ibnu Zahrah ibnu Kilab al-Qurasyi al-Hasyimiy. Sebelum masuk Islam ia bernama ‘Abdu ‘Amr, kemudian namanya diganti oleh Rasulullah saw. menjadi ‘AbdurRahman.