Kisah Bilal bin Rabah, Dijemur Di Padang Pasir yang Panas

وَمِنَ الَّذِيْنَ أُوْذُوْا فِي اللهِ: بِلَالُ بْنُ رَبَاحٍ

Dan di antara orang-orang yang dizalimi karena Allah adalah Bilal bin Rabah.

كَانَ مَمْلُوْكًا لِأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ الْجُمَحِيِّ الْقُرَشِيِّ

Dia adalah budak milik Umaya bin Khalaf dari suku Jumah Quraisy.

فَكَانَ يَجْعَلُ فِي عُنُقِهِ حَبْلًا وَيَدْفَعُهُ إِلَى الصِّبْيَانِ يَلْعَبُوْنَ بِهَ

Dia (Umayyah) memasang tali di leher Bilal dan menyerahkannya kepada anak-anak untuk dimainkan.

وَهُوَ يَقُوْلُ: أَحَدٌ أَحَدٌ، لَمْ يُشْغِلْهُ مَا هُوَ فِيْهِ عَنْ تَوْحِيْدِ اللهِ

Sedangkan dia (Bilal) mengucapkan "Dia itu Esa, Dia itu Esa", kondisinya tidak mengalihkan perhatiannya dari mengesakan Allah.

وَكَانَ أُمَيَّةَ يَخْرُجُ بِهِ فِي وَقْتِ الظَّهِيْرَةِ فِي الرَّمْضَاءِ

Umayyah mengeluarkannya pada waktu dzuhur di Ar-Ramdla`.

وَهِيَ الرَّمْلُ الشَّدِيْدُ الْحَرَارَةِ لَوْ وُضِعَتْ عَلَيْهِ قِطْعَةُ لَحْمٍ لَنَضِجَتْ

Ar-Ramdla` adalah pasir yang sangat panas, seandainya potongan daging diletakkan di atasnya, pasti matang.

ثُمَّ يُؤْمَرُ بِالصَّخْرَةِ الْعَظِيْمَةِ فَتُوْضَعُ عَلَى صَدْرِهِ

Kemudian diperintahkan dengan sebuah batu besar lalu diletakkan di atas dadanya.

ثُمَّ يَقُوْلُ لَهُ: لَا تَزَالُ هَكَذَا حَتَّى تَمُوْتَ أَوْ تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ وَتَعْبُدُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى

Kemudian dia (Umayyah) berkata kepadanya: "Kamu tetap seperti ini sampai mati atau mengingkari Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza."

فَيَقُوْلُ: أَحَدٌ أَحَدٌ

Dia (Bilal) menjawab: "Dia itu Esa, Dia itu Esa."

مَرَّ بِهِ أَبُوْ بَكْرٍ يَوْمًا فَقَالَ: يَا أُمَيَّةُ أَمَا تَتَّقِي اللهَ فِي هَذَا الْمِسْكِيْنِ؟ حَتَّى مَتَى تُعَذِّبُهُ؟

Suatu hari Abu Bakar lewat dan berkata: "Wahai Umayyah, tidakkah kamu takut kepada Allah dalam memperlakukan budak ini? Sampai kapan kamu akan menyiksanya?"

 قَالَ: أَنْتَ أَفْسَدْتَهُ فَأَنْقِذْهُ مِمَّا تَرَى

Umayyah menjawab: "Kamu yang merusaknya, maka selamatkanlah dia dari apa yang kamu lihat."

فَاشْتَرَاهُ مِنْهُ وَأَعْتَقَهُ فَأَنْزَلَ اللهُ فِيْهِ وَفِي أُمَيَّةَ فِي سُوْرَةِ اللَّيْلِ

Maka Abu Bakar membelinya dari Umaya dan membebaskannya, lalu Allah menurunkan ayat tentang keduanya dalam Surat Al-Lail (92) : 14 - 21.

فَأَنْذَرْتُكُمْ ناراً تَلَظَّى

Maka Aku memperingatkan kalian dengan api yang menyala-nyala (14)

لا يَصْلاها إِلَّا الْأَشْقَى : أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ

Tidak akan masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka (15) : yaitu Umayyah bin Khalaf

الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى

Orang yang mendustakan dan berpaling (16)

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى الصدّيق 

Dan akan dijauhkan darinya orang yang paling takwa (17) : yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq

الَّذِي يُؤْتِي مالَهُ يَتَزَكَّى

Orang yang memberikan hartanya untuk membersihkan diri (18)

وَما لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى

Dan tidaklah karena bagi seseorang pada dirinya ada nikmat yang perlu dibalas (19)

إِلَّا ابْتِغاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلى

Melainkan karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi (20)

وَلَسَوْفَ يَرْضى بِمَا يُعْطِيْهِ اللهُ فِي الْاُخْرَى جَزَاءَ أَعْمَالِهِ

Dan dia akan merasa puas (21) : yaitu dengan apa yang diberikan Allah kepadanya sebagai balasan atas amal-amalnya.

وَقَدْ نَبَّهَ اللهُ جَلَّ ذِكْرُهُ عَلَى أَنَّ بَذْلِ الصِّدِّيْقِ مَالَهُ فِي شِرَاءِ بِلَالٍ وَعِتْقِهِ لَمْ يَكُنْ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ

Allah telah menunjukkan bahwa pengeluaran harta Abu Bakar untuk membeli dan membebaskan Bilal hanya dilakukan untuk mencari keridhaan Tuhannya.

وَكَفَى بِهَذَا شَرَفًا وَفَضْلًا لِلصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ

Dan cukuplah ini sebagai kehormatan dan keutamaan bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga Allah ridha padanya dan menjadikannya ridha kepada-Nya.

وَقَدْ أَعْتَقَ غَيْرَ بِلَالٍ جَمَاعَةً مِنَ الْأَرِقَّاءِ أَسْلَمُوْا

Dan selain Bilal, Abu Bakar juga membebaskan budak-budak lain yang telah memeluk Islam.

فَعَابَهُمْ مَوَالِيْهِمْ

Namun tuan-tuan mereka mencela mereka.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url