Islamnya Hamzah
إِسْلَامُ حَمْزَةَ
وَكَانَ بَعْضُ إِيْذَائِهِمْ هَذَا سَبَبًا لِإِسْلَامِ عَمِّهِ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ، فَقَدْ أَدْرَكَتْهُ الْحَمِيَّةُ عِنْدَمَا عَيَّرَتْهُ بَعْضُ الْجَوَارِيْ بِاِيْذَاءِ أَبِي جَهْلٍ لِابْنِ أَخِيْهِ، فَتَوَجَّهَ إِلَى ذَلِكَ الشَّقِيِّ وَغَاضَبَهُ وَسَبَّهُ، وَقَالَ: كَيْفَ تَسُبُّ مُحَمَّدًا وَأَنَا عَلَى دِيْنِهِ، ثُمَّ أَنَارَ اللهُ بَصِيْرَتَهُ بِنُوْرِ الْيَقِيْنِ حَتَّى صَارَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ إِسْلَامًا، وَأَشَدِّهِمْ غِيْرَةً عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَقْوَاهُمْ شَكِيْمَةً عَلَى أَعْدَاءِ الدِّيْنِ حَتَّى سُمِّيَ أَسَدُ اللهِ.
وَكَمَا أُوْذِيَ الرَّسُوْلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أُوْذِيَ أَصْحَابُهُ لِاتِّبَاعِهِمْ لَهُ، خُصُوْصًا مَنْ لَيْسَ لَهُ عَشِيْرَةٌ تَحْمِيْهِ وَتَرُدُّ كَيْدَ عَدُوِّهِ عَنْهُ، وَكُلُّ هَذَا الْأَذَى كَانَ حَلْوًا فِي أَعْيُنِهِمْ مَا دَامَ فِيْهِ رِضَاءَ اللهِ، فَلَمْ يُفْتَنُوْا عَنْ دِيْنِهِمْ بَلْ ثَبَّتَهُمُ اللهُ حَتَّى أَتَمَّ أَمْرَهُ عَلَى أَيْدِيْهِمْ، وَصَارُوْا مُلُوْكَ الْأَرْضِ بَعْدَ أَنْ كَانُوْا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْهَا، كَمَا قَالَ جَلَّ ذِكْرُهُ فِي سُوْرَةِ الْقَصَصِ وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوارِثِينَ . وَقَدْ حَقَّقَ مَا أَرَادَ.
HAMZAH MASUK ISLAM
Sebagian perlakuan dari orang-orang Quraisy yang menyakitkan tersebut . merupakan penyebab yang mendorong Hamzah ibnu ‘Abdul-Muththalib, — paman Rasulullah saw., masuk Islam.
Kefanatikan Hamzah terbakar ketika pada suatu hari ia dicela oleh sebagian kaum wanita karena dia diam saja sewaktu Abu Jahal menyakiti keponakannya sendiri (yaitu Rasulullah saw.) Segera ia berangkat menemui orang yang celaka itu, lalu ia memarahi dan memaki-makinya seraya mengatakan, “Mengapa engkau mencaci-maki Muhammad, sedangkan aku memeluk agamanya? Kemudian Allah memberikan cahaya keyakinan ke dalam hatinya sehingga ia menjadi orang yang paling baik keislamannya dan paling besar rasa ghirah-nya terhadap kaum Muslimin, serta paling kuat permusuhannya terhadap musuh-musuh agama sehingga ia dijuluki Asadullah (Harimau Allah).
Sebagaimana Rasulullah saw. menerima perlakuan yang menyakitkan dari kaumnya, para sahabat pun mendapat perlakuan yang sama karena mereka mengikuti Rasulullah saw. Terutama sekali sahabat yang tidak memiliki keluarga yang dapat melindungi dirinya dari serangan musuh. Semua perlakuan yang menyakitkan itu dianggap remeh oleh mereka karena menyadari bahwa sikap mereka itu diridai oleh Allah swt. Keyakinan mereka terhadap agama Islam tetap kuat dan tidak goyah serta tidak terkena fitnah. Allah swt, menegakkan keimanan mereka sehingga akhirnya Dia menyempurnakan agama-Nya di tangan mereka, dan mereka akhirnya menjadi raja-raja di muka bumi yang sebelumnya mereka adalah orangorang lemah sebagaimana yang telah disebutkan dalam firman-Nya:
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (Q.S. 28 AlQashash: 5)
Allah swt. mewujudkan apa yang telah dikehendaki-Nya itu.
