Tahun Paling Menyedihkan Rasulullah ﷺ: Wafat Khadijah dan Abu Thalib, Awal Dakwah Semakin Berat

Kisah memilukan Nabi Muhammad ﷺ saat kehilangan Khadijah dan Abu Thalib. Inilah masa paling berat dalam hidup beliau, dikenal sebagai "Tahun Kesedihan".


زَوَاجُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Pernikahan ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā

 
وَبَعْدَ ذَٰلِكَ بِشَهْرٍ عَقَدَ عَلَىٰ عَائِشَةَ بِنْتِ صِدِّيقِهِ أَبِي بَكْرٍ

Dan sebulan setelah itu, Nabi menikahi ‘Āisyah binti ṣiddīq-nya Abū Bakr

 
وَهِيَ لَا تَتَجَاوَزُ السَّابِعَةَ مِنْ عُمْرِهَا

Saat itu usianya belum melewati tujuh tahun


وَلَمْ يَتَزَوَّجْ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِكْرًا غَيْرَهَا

Dan beliau ﷺ tidak menikahi gadis selain dia

وَدَخَلَ عَلَيْهَا بِالْمَدِينَةِ

Beliau mulai hidup bersama ‘Āisyah di Madinah
 
أَمَّا سَوْدَةُ فَدَخَلَ عَلَيْهَا بِمَكَّةَ

Adapun Saudah, beliau hidup bersamanya di Makkah
 
وَبَعْدَ وَفَاةِ خَدِيجَةَ بِنَحْوِ شَهْرٍ تُوُفِّيَ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ

Sekitar sebulan setelah wafatnya Khadijah, paman beliau Abū Ṭālib wafat

الَّذِي كَانَ يَمْنَعُهُ مِنْ أَذَىٰ أَعْدَائِهِ

Yang biasa melindungi beliau dari gangguan musuh-musuhnya

وَمَعَ أَنَّهُ كَانَ لَا يُكَذِّبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَاءَ بِهِ

Padahal dia tidak pernah mendustakan apa yang dibawa oleh Rasulullāh ﷺ
 
بَلْ يَعْتَقِدُ صِدْقَهُ

Bahkan dia meyakini bahwa beliau benar
 
لَمْ يَنْطِقْ بِالشَّهَادَتَيْنِ حَتَّىٰ آخِرِ لَحْظَةٍ مِنْ حَيَاتِهِ

Namun dia tidak mengucapkan dua kalimat syahadat sampai akhir hayatnya
 
وَفِيهِ نَزَلَ فِي سُورَةِ الْقَصَصِ

Dan tentang hal ini turun ayat dalam Surah al-Qaṣaṣ:
 
﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allāh memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. al-Qaṣaṣ: 56)
 
وَلَكِنْ لِأَعْمَالِهِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي عَمِلَهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ نَرْجُو أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُ

Namun karena jasa-jasanya besar kepada Rasulullāh, kami berharap agar (azab) diringankan darinya
 
وَعَدَمُ إِسْلَامِهِ هُوَ وَغَالِبُ أَقَارِبِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ مِنَ الْحِكْمَةِ مَا لَا يَخْفَىٰ

Ketidakislaman dia dan mayoritas kerabat Nabi ﷺ mengandung hikmah yang jelas
 
فَإِنَّهُمْ لَوْ بَادَرُوا بِاتِّبَاعِهِ لَقِيلَ

Sebab jika mereka segera mengikutinya, niscaya orang berkata
 
قَوْمٌ يَطْلُبُونَ سِيَادَةً وَفَخْرًا لَيْسَا لَهُمْ فَجَاءُوا بِهَٰذَا الْأَمْرِ الْمُفْتَرَىٰ

“Mereka adalah kaum yang mencari kekuasaan dan kebanggaan yang bukan milik mereka, maka mereka buat-buat agama ini.”
 
وَلَٰكِنْ لَمَّا رَأَى الْمُعَانِدُونَ أَنَّ مُتَّبِعِيهِ هُمُ الْغُرَبَاءُ عَنْهُ

Namun ketika para penentang melihat bahwa para pengikutnya adalah orang-orang asing (bukan kerabatnya)
 
الَّذِينَ لَيْسُوا مِنْ عَشِيرَتِهِ

Yang bukan dari kabilahnya
 
بَلْ مِنْ أَعْدَائِهَا أَحْيَانًا كَعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ

Bahkan kadang dari musuh kabilahnya, seperti ‘Uṯmān bin ‘Affān dari Bani Umayyah
 
لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ أَدْنَىٰ حُجَّةٍ يُقِيمُونَهَا

Maka mereka tidak memiliki hujjah sedikit pun yang bisa ditegakkan
 
إِلَّا دَعَاوِيهِمُ الْكَاذِبَةَ

Kecuali klaim-klaim dusta mereka
 
الَّتِي كَانُوا يَتَمَسَّكُونَ بِهَا حِينَمَا تَصَدَّعُهُمُ الْحُجَّةُ

Yang mereka pegang saat hujjah menghancurkan argumen mereka
 
مِنْ قَوْلِهِمْ: سَاحِرٌ يُفَرِّقُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ، وَكَاهِنٌ يَتَكَهَّنُ بِالْغَيْبِ

Dengan ucapan mereka: “Penyihir yang memisahkan antara suami dan istri, dan dukun yang mengaku mengetahui hal gaib.”
 
وَقَدْ سَمَّى رَسُولُ اللَّهِ هَذَا الْعَامَ الَّذِي فَقَدَ فِيهِ زَوْجَهُ وَعَمَّهُ: "عَامَ الْحُزْنِ"

Nabi ﷺ menamai tahun saat beliau kehilangan istri dan pamannya dengan nama “Tahun Kesedihan.”
 
وَلَمَّا مَاتَ أَبُو طَالِبٍ نَالَتْ قُرَيْشٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يُمْكِنْهَا نَيْلُهُ فِي حَيَاةِ أَبِي طَالِبٍ

Setelah Abū Ṭālib wafat, kaum Quraisy bisa menyakiti Rasulullāh ﷺ dengan cara yang tak mungkin mereka lakukan sebelumnya
 
وَاشْتَدَّ الْأَمْرُ عَلَيْهِ

Keadaan semakin berat atas beliau
 
حَتَّىٰ كَانُوا يَنْثُرُونَ التُّرَابَ عَلَىٰ رَأْسِهِ وَهُوَ سَائِرٌ

Hingga mereka menaburkan debu di atas kepala beliau saat beliau berjalan
 
وَيَضَعُونَ أَوْسَاخَ الشَّاةِ عَلَيْهِ فِي صَلَاتِهِ

Dan mereka meletakkan kotoran kambing ke atas beliau saat sedang shalat
 
وَتَعَلَّقَتْ بِهِ كُفَّارُ قُرَيْشٍ مَرَّةً يَتَجَاذَبُونَهُ

Orang-orang kafir Quraisy pernah mengganduli dan saling menarik beliau
 
وَيَقُولُونَ لَهُ: أَأَنْتَ الَّذِي تُرِيدُ أَنْ تَجْعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا؟

Dan mereka berkata: “Apakah engkau yang ingin menjadikan sesembahan yang banyak menjadi satu Tuhan saja?”
 
فَمَا تَقَدَّمَ أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ حَتَّىٰ يُخَلِّصَهُ مِنْهُمْ لِمَا هُمْ عَلَيْهِ مِنَ الضَّعْفِ

Tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang maju menyelamatkan beliau karena mereka dalam keadaan lemah
 
إِلَّا أَبُو بَكْرٍ، فَإِنَّهُ تَقَدَّمَ وَقَالَ

Kecuali Abū Bakr, dia maju dan berkata:
 
أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ: رَبِّيَ اللَّهُ؟!

“Apakah kalian hendak membunuh seseorang hanya karena dia berkata: Rabbku adalah Allāh?!”

***

Sudahkah Anda merenungi perjuangan dakwah Nabi ﷺ di masa tersulitnya? Bagikan artikel ini jika Anda merasa terinspirasi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url