Kisah Darun Nadwah: Konspirasi Quraisy Membunuh Nabi ﷺ dan Awal Hijrah ke Madinah
دارُ النَّدْوَةِ
Dar al-Nadwah (balai musyawarah Quraisy).
أمَّا قُرَيْشٌ فَكانُوا كَأَنَّهُمْ أُصِيبُوا بِمَسِّ الشَّيْطَانِ حِينَما طَرَقَ مَسامِعَهُمْ مُبايَعَةُ الأَنْصارِ لَهُ عَلَى الذَّوْدِ عَنْهُ حَتَّى المَوْتِ،
Adapun kaum Quraisy, seakan-akan mereka terkena sentuhan setan ketika kabar baiat kaum Anshar kepadanya — untuk membelanya hingga mati — sampai ke telinga mereka.
فَاجْتَمَعَ رُؤَسَاؤُهُمْ وَقَادَتُهُمْ فِي دارِ النَّدْوَةِ (وَهِيَ دارُ قُصَيِّ بْنِ كِلابٍ الَّتِي كانَتْ قُرَيْشٌ لا تَقْضِي أَمْرًا إِلَّا فِيها) يَتَشاوَرُونَ ما يَصْنَعُونَ فِي أَمْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خافُوهُ،
Maka para pemuka dan pemimpin mereka berkumpul di Dar al-Nadwah (rumah Qushay bin Kilab, tempat Quraisy tidak memutuskan perkara kecuali di sana), bermusyawarah tentang apa yang akan mereka lakukan terhadap Rasulullah ﷺ ketika mereka sudah takut kepadanya.
فَقالَ قائِلٌ مِنْهُمْ: نُخْرِجُهُ مِنْ أَرْضِنا كَيْ نَسْتَريحَ مِنْهُ،
Salah seorang dari mereka berkata: “Kita usir saja dia dari negeri kita supaya kita tenang darinya.”
فَرُفِضَ هذَا الرَّأْيُ لِأَنَّهُمْ قالُوا: إِذَا خَرَجَ اجْتَمَعَتْ حَوْلَهُ الجُموعُ لِما يَرَوْنَ مِنْ حَلاوَةِ مَنْطِقِهِ وَعُذُوبَةِ لَفْظِهِ.
Namun pendapat itu ditolak karena mereka berkata: “Jika ia keluar, orang-orang akan berkumpul di sekelilingnya karena manisnya tutur kata dan lembutnya ucapannya.”
وَقالَ آخَرُ: نُوَثِّقُهُ وَنَحْبِسُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ ما أَدْرَكَ الشُّعَرَاءَ قَبْلَهُ مِنَ المَوْتِ.
Yang lain berkata: “Kita ikat dan penjarakan dia sampai ia meninggal sebagaimana para penyair sebelumnya.”
فَرُفِضَ هذَا الرَّأْيُ كَسابِقِهِ لِأَنَّهُمْ قالُوا: إِنَّ الخَبَرَ لا يَلْبَثُ أَنْ يَبْلُغَ أَنْصارَهُ،
Pendapat ini pun ditolak seperti sebelumnya, karena mereka berkata: “Berita itu tidak lama lagi akan sampai kepada para pengikutnya…”
وَنَحْنُ أَدْرَى النَّاسِ بِمَنْ دَخَلَ دِينَهُ حَيْثُ يُفَضِّلُونَهُ عَلَى الآباءِ وَالأَبْناءِ،
“…dan kita paling tahu bagaimana orang-orang yang masuk agamanya, mereka mengutamakannya daripada ayah dan anak-anak mereka.”
فَإِذا سَمِعُوا ذلِكَ جاءُوا لِتَخْلِيصِهِ وَرُبَّما جَرَّ هذَا مِنَ الحَرْبِ عَلَيْنا ما نَحْنُ فِي غِنىً عَنْهُ.
“Maka jika mereka mendengar itu, mereka akan datang membebaskannya, dan hal itu mungkin menyeret perang kepada kita—sesuatu yang tidak kita inginkan.”
وَقالَ لَهُمْ طاغِيَتُهُمْ: بَلْ نَقْتُلُهُ.
Pemimpin tirani mereka berkata: “Tidak. Kita bunuh saja dia.”
وَلِنَمْنَعَ بَنِي أَبِيهِ مِنَ الأَخْذِ بِثَأْرِهِ، نَأْخُذُ مِنْ كُلِّ قَبِيلَةٍ شابًّا جَلْدًا يَجْتَمِعُونَ أَمامَ دارِهِ،
“Dan agar keluarga besarnya tidak bisa menuntut balas, kita ambil dari tiap kabilah satu pemuda yang kuat lalu mereka berkumpul di depan rumahnya…”
فَإِذا خَرَجَ ضَرَبُوهُ ضَرْبَةَ رَجُلٍ واحِدٍ، فَيَتَفَرَّقَ دَمُهُ فِي القَبائِلِ،
“Ketika ia keluar, mereka memukulnya serempak sebagai satu pukulan, sehingga darahnya tersebar di berbagai kabilah.”
فَلا يَقْدِرَ بَنُو عَبْدِ مَنافٍ عَلى حَرْبِ قُرَيْشٍ كُلِّهِمْ، بَلْ يَرْضَوْنَ بِالدِّيَةِ،
“Dengan begitu Bani Abdul Manaf tidak mampu memerangi seluruh Quraisy dan mereka akan menerima diyat.”
فَأَقَرُّوا هذَا الرَّأْيَ.
Maka mereka pun menyetujui pendapat itu.
هذَا مَكْرُهُمْ، وَلَكِنْ إِرادَةُ اللهِ فَوْقَ كُلِّ إِرادَةٍ، وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الماكِرِينَ،
Itulah tipu daya mereka, tetapi kehendak Allah berada di atas setiap kehendak. “Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar, dan Allah sebaik-baik pembuat makar.” [Al-Anfal : 30]
فَأَعْلَمَ نَبِيَّهُ بِما دَبَّرَهُ الأَعْداءُ فِي سِرِّهِمْ، وَأَمَرَهُ بِاللِّحاقِ بِدارِ هِجْرَتِهِ،
Maka Allah memberitahu Nabi-Nya tentang apa yang direncanakan musuh secara sembunyi-sembunyi, dan memerintahkannya pergi menuju negeri hijrahnya.
بِدارٍ فِيها يُنْشَرُ الإِسْلامُ، وَيَكُونُ فِيها لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ العِزَّةُ وَالمَنَعَةُ.
Menuju negeri tempat Islam akan tersebar, dan tempat Rasulullah ﷺ mendapatkan kemuliaan serta perlindungan.
وَهذَا مِنَ الحِكْمَةِ بِمَكانٍ عَظِيمٍ، فَإِنَّهُ لَوِ انْتَشَرَ الإِسْلامُ بِمَكَّةَ لَقالَ المُبْغِضُونَ: إِنَّ قُرَيْشًا أَرادُوا مُلْكَ العَرَبِ،
Dan ini merupakan hikmah yang sangat agung, sebab jika Islam menyebar di Mekah, para pembenci akan berkata: “Quraisy menginginkan kekuasaan atas Arab…”
فَعَمَدُوا إِلى شَخْصٍ مِنْهُمْ، وَأَوْعَزُوا إِلَيْهِ أَنْ يَدَّعِيَ هذِهِ الدَّعْوَى حَتَّى تَكُونَ وَسِيلَةً لِنَيْلِ مَآرِبِهِمْ،
“…lalu mereka menunjuk seseorang dari mereka, dan memerintahkannya untuk mengaku hal itu agar menjadi jalan mencapai tujuan mereka.”
وَلَكِنَّهُمْ كانُوا لَهُ أَعْداءً أَلِدّاءً آذَوْهُ شَدِيدَ الأَذى، حَتَّى اخْتارَ اللهُ لَهُ مُفارَقَةَ بِلادِهِمْ وَالبُعْدَ عَنْهُمْ.
Namun kenyataannya mereka adalah musuh-musuhnya yang paling sengit, yang sangat menyakitinya, hingga Allah memilihkan baginya untuk meninggalkan negeri mereka dan menjauh dari mereka.
