Sejarah Bai‘at Aqabah Kedua: Janji Kaum Anshar Melindungi Nabi Muhammad ﷺ


  العَقَبَةُ الثَّانِيَةُ

Peristiwa Aqabah Kedua

وَلَمَّا كَانَ وَقْتُ الْحَجِّ فِي الْعَامِ الَّذِي يَلِي الْبَيْعَةَ الْأُولَى، قَدِمَ مَكَّةَ كَثِيرُونَ مِنْهُمْ يُرِيدُونَ الْحَجَّ، وَبَيْنَهُمْ كَثِيرٌ مِنْ مُشْرِكِيهِمْ.

Ketika tiba waktu haji pada tahun setelah Bai‘at Aqabah pertama, banyak dari mereka datang ke Makkah untuk menunaikan haji, dan di antara mereka terdapat banyak orang musyrik.

وَلَمَّا قَابَلَ وَفْدُهُمْ رَسُولَ اللهِ ﷺ، وَاعَدُوهُ الْمُقَابَلَةَ لَيْلًا عِنْدَ الْعَقَبَةِ، فَأَمَرَهُمْ أَلَّا يُنَبِّهُوا فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ نَائِمًا، وَلَا يَنْتَظِرُوا غَائِبًا.

Ketika rombongan mereka bertemu Rasulullah ﷺ, mereka berjanji untuk bertemu dengannya pada malam hari di Aqabah. Beliau memerintahkan mereka agar tidak membangunkan orang yang sedang tidur dan tidak menunggu orang yang tidak hadir.

لِأَنَّ كُلَّ هَذِهِ الْأَعْمَالِ كَانَتْ خَفِيَّةً مِنْ قُرَيْشٍ كَيْلَا يَطَّلِعُوا عَلَى الْأَمْرِ، فَيَسْعَوْا فِي نَقْضِ مَا أَبْرَمَ.

Sebab semua kegiatan ini dilakukan secara rahasia dari kaum Quraisy agar mereka tidak mengetahui urusan itu, lalu berusaha membatalkan apa yang telah disepakati.

شَأْنُهُمْ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي أَوَّلِ أَمْرِهِ.

Sebagaimana kebiasaan mereka terhadap Rasulullah ﷺ di permulaan dakwah beliau.

وَلَمَّا فَرَغَ الْأَنْصَارُ مِنْ حَجِّهِمْ، تَوَجَّهُوا إِلَى مَوْعِدِهِمْ كَاتِمِينَ أَمْرَهُمْ عَمَّنْ مَعَهُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

Ketika kaum Anshar telah selesai menunaikan haji mereka, mereka pergi menuju tempat pertemuan yang dijanjikan dengan merahasiakan urusan itu dari kaum musyrik yang bersama mereka.

وَكَانَ ذَلِكَ بَعْدَ مَضِيِّ ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ، فَكَانُوا يَتَسَلَّلُونَ الرَّجُلَ وَالرَّجُلَيْنِ حَتَّى تَمَّ عَدَدُهُمْ ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ رَجُلًا.

Hal itu terjadi setelah berlalu sepertiga malam pertama. Mereka datang dengan menyelinap satu demi satu, dua demi dua, hingga jumlah mereka genap tujuh puluh tiga orang.

مِنْهُمْ اثْنَانِ وَسِتُّونَ مِنَ الْخَزْرَجِ، وَأَحَدَ عَشَرَ مِنَ الْأَوْسِ.

Dari mereka, enam puluh dua orang berasal dari suku Khazraj dan sebelas orang dari suku Aus.

وَمَعَهُمْ امْرَأَتَانِ وَهُمَا نُسَيْبَةُ بِنْتُ كَعْبٍ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ، وَأَسْمَاءُ بِنْتُ عَمْرٍو مِنْ بَنِي سَلِمَةَ.

Bersama mereka ada dua wanita, yaitu Nusaybah binti Ka‘b dari Bani Najjar dan Asma’ binti ‘Amr dari Bani Salamah.

وَوَافَقَهُمْ رَسُولُ اللهِ ﷺ هُنَاكَ، وَلَيْسَ مَعَهُ إِلَّا عَمُّهُ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَهُوَ عَلَى دِينِ قَوْمِهِ، وَلٰكِنْ أَرَادَ أَنْ يَحْضُرَ أَمْرَ ابْنِ أَخِيهِ لِيَكُونَ مُتَوَثِّقًا لَهُ.

Rasulullah ﷺ datang menemui mereka di sana, hanya ditemani oleh pamannya, al-‘Abbas bin ‘Abd al-Muththalib, yang saat itu masih memeluk agama kaumnya. Namun, ia ingin hadir dalam urusan keponakannya agar dapat memastikan keamanannya.

فَلَمَّا اجْتَمَعُوا عَرَّفَهُمُ الْعَبَّاسُ بِأَنَّ ابْنَ أَخِيهِ لَمْ يَزَلْ فِي مَنَعَةٍ مِنْ قَوْمِهِ، حَيْثُ لَمْ يُمَكِّنُوا مِنْهُ أَحَدًا مِمَّنْ أَظْهَرَ لَهُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ، وَتَحَمَّلُوا مِنْ ذَلِكَ أَعْظَمَ الشِّدَّةِ.

Ketika mereka berkumpul, al-‘Abbas menjelaskan kepada mereka bahwa keponakannya masih berada dalam perlindungan kaumnya, karena mereka tidak pernah membiarkan seorang pun yang menunjukkan permusuhan dan kebencian kepadanya, bahkan mereka menanggung kesulitan besar demi melindunginya.

ثُمَّ قَالَ لَهُمْ: إِنْ كُنْتُمْ تَرَوْنَ أَنَّكُمْ وَافُونَ بِمَا دَعَوْتُمُوهُ إِلَيْهِ وَمَانِعُوهُ مِمَّنْ خَالَفَهُ، فَأَنْتُمْ وَمَا تَحَمَّلْتُمْ مِنْ ذَلِكَ، وَإِلَّا فَدَعُوهُ بَيْنَ عَشِيرَتِهِ، فَإِنَّهُ لِمَكَانٍ عَظِيمٍ.

Kemudian ia berkata kepada mereka: “Jika kalian yakin akan menepati janji untuk memenuhi seruannya dan melindunginya dari orang-orang yang memusuhinya, maka tanggunglah konsekuensinya. Namun, jika tidak, maka biarkanlah dia tetap bersama kaumnya, karena dia berada dalam kedudukan yang mulia di tengah mereka.”

فَقَالَ كَبِيرُهُمْ الْمُتَكَلِّمُ عَنْهُمْ الْبَرَاءُ بْنُ مَعْرُورٍ:

Maka berdirilah pemimpin mereka yang berbicara atas nama mereka, yaitu al-Barā’ bin Ma‘rūr, seraya berkata:

وَاللَّهِ لَوْ كَانَ لَنَا فِي أَنْفُسِنَا غَيْرُ مَا نَنْطِقُ بِهِ لَقُلْنَاهُ، وَلَكِنَّا نُرِيدُ الْوَفَاءَ وَالصِّدْقَ وَبَذْلَ مُهَجِنَا دُونَ رَسُولِ اللهِ ﷺ.

“Demi Allah, seandainya dalam hati kami ada selain apa yang kami ucapkan, niscaya kami akan mengatakannya. Tetapi kami hanya menginginkan kesetiaan, kejujuran, dan siap mengorbankan jiwa kami demi Rasulullah ﷺ.”

وَعِنْدَ ذَلِكَ قَالُوا لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: خُذْ لِنَفْسِكَ وَلِرَبِّكَ مَا أَحْبَبْتَ.

Kemudian mereka berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Ambillah untuk dirimu dan untuk Tuhanmu apa yang engkau kehendaki.”

فَقَالَ: أَشْتَرِطُ لِرَبِّي أَنْ تَعْبُدُوهُ وَاحِدَهُ، وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَلِنَفْسِي أَنْ تَمْنَعُونِي مِمَّا تَمْنَعُونَ مِنْهُ نِسَاءَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ مَتَى قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ.

Beliau bersabda: “Aku berjanji atas nama Tuhanku bahwa kalian menyembah-Nya saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Dan untuk diriku, aku meminta agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak-anak kalian apabila aku datang kepada kalian.”

فَقَالَ لَهُ أَبُو الْهَيْثَمِ ابْنُ التَّيِّهَانِ:

 Maka berkatalah kepadanya Abu al-Haytsam bin at-Tayyihān:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الرِّجَالِ عُهُودًا، وَإِنَّا قَاطِعُوهَا، فَهَلْ عَسَيْتَ إِنْ نَحْنُ فَعَلْنَا ذٰلِكَ ثُمَّ أَظْهَرَكَ اللَّهُ أَنْ تَرْجِعَ إِلَى قَوْمِكَ وَتَدَعَنَا؟

 “Wahai Rasulullah, sesungguhnya antara kami dan orang-orang (Quraisy) ada perjanjian. Kami akan memutuskan perjanjian itu. Maka apakah mungkin bila kami melakukan hal itu lalu Allah memenangkanmu, engkau akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami?”

فَتَبَسَّمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَقَالَ:

 Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda:

بَلِ الدَّمُ الدَّمُ، وَالْهَدْمُ الْهَدْمُ.

 “Tidak, (kita sehidup semati): darah demi darah, dan kehancuran demi kehancuran.”

أَيْ: إِنْ طَالَبْتُمْ بِدَمٍ طَالَبْتُ بِهِ، وَإِنْ أَهْدَرْتُمُوهُ أَهْدَرْتُهُ.

 Artinya: “Jika kalian menuntut balas atas darah (yang tertumpah), aku juga akan menuntutnya. Dan jika kalian memaafkannya, maka aku pun memaafkannya.”

وَحِينَذَاكَ ٱبْتَدَأَتِ ٱلْمُبَايَعَةُ، وَهِيَ ٱلْعَقَبَةُ ٱلثَّانِيَةُ.

 Pada saat itulah dimulailah pembaiatan, yaitu Bai‘at al-‘Aqabah yang kedua.

فَبَايَعَهُ ٱلرِّجَالُ عَلَى مَا طَلَبَ.

 Maka para lelaki itu membaiat beliau atas apa yang beliau minta.

وَأَوَّلُ مَنْ بَايَعَ أَسْعَدُ بْنُ زُرَارَةَ، وَقِيلَ: ٱلْبَرَاءُ بْنُ مَعْرُورٍ.

 Orang pertama yang membaiat beliau adalah As‘ad bin Zurārah — dan ada pula yang mengatakan al-Barā’ bin Ma‘rūr.

ثُمَّ ٱخْتَارَ مِنْهُمْ ٱثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا، لِكُلِّ عَشِيرَةٍ مِنْهُمْ وَاحِدٌ، تِسْعَةٌ مِنَ ٱلْخَزْرَجِ، وَثَلَاثَةٌ مِنَ ٱلْأَوْسِ.

 Kemudian beliau memilih dari mereka dua belas orang pemimpin (naqīb), satu dari setiap kabilah: sembilan dari suku Khazraj dan tiga dari suku Aus.

وَهُم: أَبُو الْهَيْثَمِ بْنُ التَّيِّهَانِ، وَأَسْعَدُ بْنُ زُرَارَةَ، وَأُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ، وَٱلْبَرَاءُ بْنُ مَعْرُورٍ، وَرَافِعُ بْنُ مَالِكٍ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي خَيْثَمَةَ، وَسَعْدُ بْنُ ٱلرَّبِيعِ، وَسَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو، وَعُبَادَةُ بْنُ ٱلصَّامِتِ، وَٱلْمُنْذِرُ بْنُ عَمْرٍو.

 Mereka adalah: Abu al-Haytham bin at-Tayyihān, As‘ad bin Zurārah, Usayd bin Hudhayr, al-Barā’ bin Ma‘rūr, Rāfi‘ bin Mālik, Sa‘d bin Abī Khaythamah, Sa‘d bin ar-Rabī‘, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullāh bin Rawāhah, ‘Abdullāh bin ‘Amr, ‘Ubādah bin as-Sāmit, dan al-Mundzir bin ‘Amr.

ثُمَّ قَالَ لَهُمْ: أَنْتُمْ كُفَلَاءُ عَلَى قَوْمِكُمْ، كَكَفَالَةِ ٱلْحَوَارِيِّينَ لِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، وَأَنَا كَفِيلٌ عَلَى قَوْمِي.

 Kemudian beliau bersabda kepada mereka: “Kalian adalah penanggung jawab atas kaum kalian, sebagaimana para Hawariyyun (pengikut setia) menjadi penanggung jawab bagi Isa bin Maryam, dan aku pun penanggung jawab atas kaumku.”

وَلِأَمْرٍ مَا أَرَادَهُ اللَّهُ، بَلَغَ خَبَرُ هٰذِهِ ٱلْبَيْعَةِ مُشْرِكِي قُرَيْشٍ.

 Atas kehendak Allah, berita tentang baiat ini sampai kepada orang-orang musyrik Quraisy.

فَجَاءُوا وَدَخَلُوا شِعْبَ ٱلْأَنْصَارِ، وَقَالُوا: يَا مَعْشَرَ ٱلْخَزْرَجِ، بَلَغَنَا أَنَّكُمْ جِئْتُمْ لِصَاحِبِنَا، تُخْرِجُونَهُ مِنْ أَرْضِنَا، وَتُبَايِعُونَهُ عَلَى حَرْبِنَا؟

 Mereka pun datang dan masuk ke perkampungan kaum Anshar seraya berkata: “Wahai kaum Khazraj! Kami mendengar bahwa kalian datang menemui sahabat kami (Muhammad), hendak membawanya keluar dari negeri kami dan membaiatnya untuk memerangi kami?”

فَأَنْكَرُوا ذٰلِكَ.

 Maka mereka (kaum Anshar) menyangkal tuduhan itu.

وَصَارَ بَعْضُ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱلَّذِينَ لَمْ يَحْضُرُوا ٱلْمُبَايَعَةَ، يَحْلِفُونَ لَهُمْ أَنَّهُمْ لَمْ يَحْصُلْ مِنْهُمْ شَيْءٌ فِي لَيْلَتِهِمْ.

 Dan sebagian orang musyrik yang tidak menghadiri baiat itu bersumpah kepada mereka bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada malam tersebut.

وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ كَبِيرُ ٱلْخَزْرَجِ يَقُولُ: مَا كَانَ قَوْمِي لِيَفْتَاتُوا عَلَيَّ بِشَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ.

 Sementara ‘Abdullāh bin Ubayy, pemimpin besar suku Khazraj, berkata: “Kaumku tidak mungkin bertindak mendahuluiku dalam urusan seperti itu.”

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url