Dakwah Secara Terang-Terangan

 الجَهْرُ بِالتَّبْلِيْغِ

مَضَتْ كُلُّ هَذِهِ الْمُدَّةِ وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا يُظْهِرُ الدَّعْوَةَ فِي مَجَامِعِ قُرَيْشٍ الْعُمُوْمِيَّةِ، وَلَمْ يَكُنْ الْمُسْلِمُوْنَ يَتَمَكَّنُوْنَ مِنْ إِظْهَارِ عِبَادَتِهِمْ حَذَرًا مِنْ تَعَصُّبِ قُرَيْشٍ. فَكَانَ كُلَّمَا أَرَادَ الْعِبَادَةَ ذَهَبَ إِلَى شِعَابِ مَكَّةَ يُصَلِّي مُسْتَخْفِيًّا. وَلَمَّا دَخَلَ فِي الدِّيْنِ مَا يَرْبُو عَلَى الثَّلَاثِيْنَ، وَكَانَ مِنَ اللَّازِمِ اجْتِمَاعُ الرَّسُوْلِ بِهِمْ لِيُرْشِدَهُمْ وَيُعَلِّمَهُمْ، اخْتَارَ لِذَلِكَ دَارَ الْأَرْقَمِ بْنِ أَبِي الْاَرْقَمِ وَهُوَ مِمَّنْ ذَكَرْنَا اسْلَامَهُمْ - وَمَكَثَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَدْعُو سِرًّا حَتَّى نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي سُوْرَةِ الْحِجْرِ فَاصْدَعْ بِما تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ . فَبَدَّلَ الدَّعْوَةَ سِرًّا بِالدَّعْوَةِ جَهْرًا مُمْتَثِلًا أَمْرَ رَبِّهِ وَاثِقًا بِوَعْدِهِ وَنَصْرِهِ، فَصَعِدَ عَلَى الصَّفَا فَجَعَلَ يُنَادِي: يَا بَنِي فِهْرٍ، يَا بَنِي عَدِيٍّ، لِبُطُوْنِ قُرَيْشٍ، فَجَعَلَ الرَّجُلَ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَخْرُجَ أَرْسَلَ رَسُوْلًا لِيَنْظُرَ الْخَبَرَ، فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ قُرَيْشًا، فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِاْلوَادِي تُرِيْدُ أَنْ تُغِيْرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟ قَالُوا: نَعَمْ، مَا جَرَبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا، قَالَ: فَإِنِّي نَذِيْرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ، فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا؟ فَأَنْزَلَ الله فِي شَأْنِهِ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ما أَغْنى عَنْهُ مالُهُ وَما كَسَبَ سَيَصْلى ناراً ذاتَ لَهَبٍ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِها حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ . وَالْقَصْدُ مِنْ حَمْلِ الْحَطَبِ الْمَشْيُ بِالنَّمِيْمَةِ لِأَنَّهَا كَانَتْ تَقُوْلُ عَلَى رَسُوْلِ الله الْأَكَاذِيْبَ فِي نَوَادِي النِّسَاءِ. ثُمَّ نَزَلَ عَلَيْهِ فِي سُوْرَةِ الشُّعَرَاءِ وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ . وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَلِّبِ وَبَنُو نَوْفَلَ وَبَنُو عَبْدِ شَمْسٍ أَوْلَادُ عَبْدِ مَنَافٍ . وَاخْفِضْ جَناحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَإِنْ عَصَوْكَ أَيْ العَشِيْرَةُ وَالْأَقْرَبُوْنَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ فَجَمَعَهُمْ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَقَالَ لَهُمْ: إِنَّ الرَّائِدَ لَا يَكْذِبُ أَهْلَهُ وَالله لَوْ كَذَبْتُ النَّاسَ جَمِيْعًا مَا كَذَبْتُكُمْ، وَلَوْ غَرَرْتُ النَّاسَ جَمِيْعًا مَا غَرَرْتُكُمْ، وَاللهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنِّي لَرَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً وَإِلَى النَّاسِ كَافَّةً، وَاللهِ لَتَمُوْتُنَّ كَمَا تَنَامُوْنَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُوْنَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُوْنَ، وَلَتُجْزَوْنَ بِالْإِحْسَانِ اِحْسَانًا وَبِالسُّوْءِ سُوْاً، وَأَنَّهَا لَجَنَّةٌ أَبَدًا أَوْ لَنَارٌ أَبَدًا. فَتَكَلَّمَ الْقَوْمُ كَلَامًا لَيِّنًا غَيْرَ عَمِّهِ أَبِي لَهَبٍ الَّذِي كَانَ خَصْمًا لَدُوْدًا فَإِنَّهُ قَالَ: خُذُوا عَلَى يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ تَجْتَمِعَ عَلَيْهِ الْعَرَبُ، فَإِنْ سَلَّمْتُمُوْهُ إِذًا اَذْلَلْتُمْ، وَإِنْ مَنَعْتُمُوْهُ قُتِلْتُمْ، فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ: وَاللهِ لَنَمْنَعَنَّهُ مَا بَقِيْنَا، ثُمَّ انْصَرَفَ الْجَمْعُ.

PENYAMPAIAN SERUAN SECARA TERANG-TERANGAN

Selama beberapa tahun Nabi saw. tidak berani menampakkan seruannya pada perkumpulan-perkumpulan umum orang-orang Quraisy, dan kaum Muslimin masih belum mampu menampakkan ibadah mereka karena khawatir terhadap kefanatikan kaum Quraisy. Setiap orang Muslim yang hendak melakukan ibadahnya terpaksa pergi keluar kota Makkah, dan di sanalah mereka melakukan salat secara sembunyi-sembunyi.

Tatkala telah masuk Islam sekitar tiga puluh orang, keadaan memaksa Rasulullah saw. berkumpul dengan mereka guna menyampaikan bimbingan dan ajarannya kepada mereka. Maka untuk merealisasikan tujuan ini Rasulullah saw. memilih rumah Al-Argam ibnu Abul-Argam sebagai tempat berkumpul. Mereka terdiri dari orang-orang yang telah kami sebutkan tadi. Akan tetapi selama beberapa waktu Rasulullah saw. terus menyiarkan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi dan rahasia sehingga turunlah firman-Nya:

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (Q.S. 15 Al-Hijr: 94)

Sejak turunnya ayat tersebut, sistem dakwah secara sembunyi-sembunyi diubah menjadi dakwah secara terang-terangan demi melaksanakan perintah Allah karena yakin akan janji dan pertolongan-Nya. Rasulullah saw. menaiki Bukit Shafa, lalu berseru. “Hai Bani Fihr, hai Bani ‘Addi.” Seruan itu ditujukan kepada puak-puak kabilah Quraisy. Mendengar seruan tersebut, bila ada yang tidak mempunyai kesempatan untuk menghadiri seruan itu, ia mengirimkan utusannya guna melihat apa yang terjadi. Pada saat itu hadir Abu Lahab ibnu ‘Abdul-Muththalib dan orang-orang Quraisy. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Hai kaum, bagaimana pendapat kalian bila aku beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda hendak menyerang kalian di balik lembah itu, apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab, “Ya, kami belum pernah melihat engkau berdusta.” Lalu Rasulullah saw, berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian di hadapan siksaan yang keras.” Kemudian Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau ini, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?” Selanjutnya Allah menurunkan firman-Nya sehubungan dengan Abu Lahab tadi yaitu:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang diusahakannya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar, yang di lehernya ada tali dari sabut. (Q.S. 111 Al-Lahab: 1-5)

Yang dimaksud dengan “pembawa kayu bakar” ialah berjalan seraya mengumpat, sebab istri Abu Lahab selalu memfitnah dengan menuduh Rasulullah saw. sebagai pembuat kebohongan-kebohongan. Hal itu dikatakannya di hadapan kumpulan kaum wanita. Setelah peristiwa itu, turun pula kepada Rasulullah saw. Firman berikut ini:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S. 26 Asy-Syu’ara: 214)

Yang dimaksud dengan kaum “kerabat yang terdekat” oleh ayat di atas adalah Bani Hasyim, Bani Muththalib, Bani Naufal, dan Bani ‘Abdusy Syamsy, mereka adalah anak-cucu ‘Abdu Manaf.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman, jika mereka mendurhakaimu. (Q.S. 26 Asy-Syw’ara: 215-216)

Yang dimaksud dengan “mereka” adalah kaum Rasulullah dan kerabat-kerabatnya.

Maka katakanlah,” Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. 26 Asy-Syu’ara: 216)

Selanjutnya Rasulullah saw. mengumpuikan mereka, lalu dia berkata, “Sesungguhnya seorang pemimpin itu tidak akan berdusta terhadap kaum kerabatnya. Demi Allah, seandainya semua manusia berdusta, aku tidak akan berdusta terhadap kalian: dan seandainya semua manusia menipu kalian, aku tidak akan menipu kalian. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian secara khusus dan untuk umat manusia seluruhnya. Demi Allah (jika kalian menurut aku), niscaya kalian akan mati bagaikan orang yang tidur, dan kalian niscaya akan dibangkitkan bagaikan orang yang bangun dari tidurnya, dan niscaya kalian akan dihisab sesuai dengan apa yang telah kalian lakukan, dan niscaya kalian akan dibalas: kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan. Sesungguhnya balasan itu surga yang abadi atau neraka yang abadi.”

Setelah kaum mendengar perkataan Rasulullah tersebut, lalu mereka membicarakannya dengan lembut selain pamannya sendiri, yaitu Abu Lahab, yang merupakan seteru bebuyutan Rasulullah. Pada saat itu Abu Lahab berkata, “Tangkaplah dia sebelum semua orang Arab berkumpul dengannya. Bilamana kalian mau menyerah kepadanya, berarti kalian hina, dan bilamana kalian mempertahankannya, niscaya kalian akan kami perangi.” Langsung Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kami akan tetap mempertahankannya selagi kami masih hidup.” Akhirnya semuanya bubar.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url