Gangguan dari Al-Aswad, Al-Walid, dan An-Nadlr
وَمِنْ جَمَاعَةِ الْمُسْتَهْزِئِيْنَ: الأَسْوَدُ بْنُ عَبْدِ يَغُوْثَ الزُّهْرِيُّ الْقُرَشِيُّ مِنْ بَنِي زُهْرَةَ أًخْوَالِ رَسُوْلِ اللهِ كَانَ إِذَا رَأَى أَصْحَابَ النَّبِيِّ مُقْبِلِيْنَ يَقُوْلُ قَدْ جَاءَكُمْ مُلُوْكُ الْأَرْضِ اسْتِهْزَاءً بِهِمْ لِأَنَّهُمْ مُتَقَشِّفِيْنَ: ثِيَابُهُمْ رَثَّةٌ، وَعَيْشُهُمْ خَشِنٌ، وَكَانَ يَقُوْلُ لِرَسُوْلِ اللهِ سُخْرِيَّةً: أَمَا كُلِّمْتَ الْيَوْمَ مِنَ السَّمَاءِ؟
وَمِنْهُمْ: الْأَسْوَدُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ الْأَسَدِيُّ ابْنُ عَمِّ خَدِيْجَةَ كَانَ هُوَ وَشِيْعَتُهُ إِذَا مَرَّ عَلَيْهِمُ الْمُسْلِمُوْنَ يَتَغَامَزُوْنَ وَفِيْهِمْ نَزَلَ فِي سُوْرَةِ التَّطْفِيْفِ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ وَإِذا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغامَزُونَ وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ وَإِذا رَأَوْهُمْ قالُوا إِنَّ هؤُلاءِ لَضالُّونَ .
وَمِنْهُمْ: الْوَلِيْدُ بْنُ الْمُغِيْرَةِ عَمُّ أَبِي جَهْلٍ، كَانَ مِنْ عُظَمَاءِ قُرَيْشٍ وَفِي سَعَةٍ مِنَ الْعَيْشِ سَمِعَ الْقُرْانَ مَرَّةً مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لِقَوْمِهِ بَنِي مَخْزُوْمٍ: وَاللهِ لَقَدْ سَمِعْتُ مِنْ مُحَمَّدٍ انِفًا كَلَامًا مَا هُوَ مِنْ كَلَامِ الْإِنْسِ وَلَا مِنْ كَلَامِ الْجِنِّ وَإِنَّ لَهُ لَحَلَاوَةٌ، وَأَنَّ عَلَيْهِ لَطَلَاوَةٌ، وَأَنَّ أَعْلَاهُ لَمُثْمِرٌ، وَأَنَّ أَسْفَلَهُ لَمُغْدِقٌ، وَأَنَّهُ يَعْلُوْ وَمَا يُعْلَى، فَقَالَتْ قُرَيْشٌ: صَبَأَ وَاللهِ الْوَلِيْدُ، لَتَصَبَّأَنَّ قُرَيْشٌ كُلُّهَا، فَقَالَ أَبُوْ جَهْلٍ: أَنَا أَكْفِيْكُمُوْهُ فَتَوَجَّهَ وَقَعَدَ إِلَيْهِ حَزِيْنًا وَكَلَّمَهُ بِمَا أَحْمَاهُ، فَقَامَ فَأَتَاهُمْ فَقَالَ: تَزْعُمُوْنَ أَنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُوْنٌ فَهَلْ رَأْيْتُمُوْهُ يُهَوِّسُ؟ وَتَقُوْلُوْنَ أَنَّهُ كَاهِنٌ فَهَلْ رَأَيْتُمُوْهُ يَتَكَهَّنُ؟
وَتَزْعُمُوْنَ أَنَّهُ شَاعِرٌ فَهَلْ رَأَيْتُمُوْهُ يَتَعَاطَى شِعْرًا قَطُّ؟ وَتَزْعُمُوْنَ أَنَّهُ كَذَّابٌ فَهَلْ جَرَّبْتُمْ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْكَذِبِ؟ فَقَالُوا فِي كُلِّ ذَلِكَ اللَّهُمَّ لَا، ثُمَّ قَالُوا فَمَا هُوَ؟ فَفَكَّرَ قَلِيْلًا ثُمَّ قَالَ: مَا هُوَ إِلَّا سَاحِرٌ، أَمَا رَأَيْتُمُوْهُ يُفَرِّقُ بَيْنَ الرَّجُلِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَمَوَالِيْهِ، فَارْتَجَّ النَّادِي فَرَحًا فَأَنْزَلَ اللهُ فِي شَأْنِ الْوَلِيْدِ فِي سُوْرَةِ الْمُدَّثِّرِ مُخَاطِبًا لِرَسُوْلِهِ ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً وَجَعَلْتُ لَهُ مالًا مَمْدُوداً وَبَنِينَ شُهُوداً وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيداً ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ كَلَّا إِنَّهُ كانَ لِآياتِنا عَنِيداً سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ نَظَرَ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ فَقالَ إِنْ هذا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ إِنْ هذا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ سَأُصْلِيهِ سَقَرَ
وَأُنْزِلَ فِيْهِ أَيْضًا فِي سُوْرَةِ ن وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ كَثِيْرُ الْحَلِفِ وَكَفَى بِهَذَا زَاجِرًا لِمَنْ اعْتَادَ الْحَلِفَ مَهِينٍ حَقِيْرٍ، وَأَرَادَ بِهِ الْكَذَّابَ لِأَنَّهُ حَقِيْرٌ فِي نَفْسِهِ هَمَّازٍ عَيَّابٍ طَعَّانٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ يَنْقُلُ الْأَحَادِيْثَ لِلْإِفْسَادِ بَيْنَ النَّاسِ مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ عُتُلٍّ غَلِيْظٍ جَافٍ (بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيْمٍ) دَخِيْلٍ أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ إِذَا تُتْلى عَلَيْهِ آياتُنا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ. كِنَايَةً عَنِ الْإِذْلَالِ وَالتَّحْقِيْرِ لِأَنَّ الْوَجْهَ أَكْرَمُ عُضْوٍ وَالْأَنْفَ أَشْرَفُ مَا فِيْهِ وَلِذَلِكَ اشْتَقَّوْا مِنْهُ كُلَّ مَا يَدُلُّ عَلَى الْعَظْمَةِ كَالْأُنْفَةِ وَهِيَ الْحَمِيَّةُ فَالْوَسْمُ عَلَى أَشْرَفِ عُضْوٍ دَلِيْلُ الْإِذْلَالِ وَالْإِهَانَةِ.
وَمِنَ الْمُسْتَهْزِئِيْنَ: النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ الْعَبْدَرِيُّ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ بْنِ قُصَيٍّ كَانَ إِذَا جَلَسَ رَسُوْلُ الله مَجْلِسًا يُحَدِّثُهُمْ وَيُذَكِّرُهُمْ مَا أَصَابَ مَنْ قَبْلَهُمْ، قَالَ النَّضْرُ: هَلُمُّوا يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ فَإِنِّي أَحْسَنُ مِنْهُ حَدِيْثًا ثُمَّ يُحَدِّثُ عَنْ مُلُوْكِ فَارِسٍ، كَانَ يَعْلَمُ أَحَادِيْثَهُمْ، وَيَقُوْلُ مَا أَحَادِيْثُ مُحَمَّدٍ إِلَّا أَسَاطِيْرُ الْأَوَّلِيْنَ وَفِيْهِ نَزَلَ فِي سُوْرَةِ لُقْمَانَ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَها هُزُواً أُولئِكَ لَهُمْ عَذابٌ مُهِينٌ وَإِذا تُتْلى عَلَيْهِ آياتُنا وَلَّى مُسْتَكْبِراً كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْها كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْراً فَبَشِّرْهُ بِعَذابٍ أَلِيمٍ . وَكُلُّ هَؤُلَاءِ انْتَقَمَ اللهُ مِنْهُمْ كَمَا قَالَ الله تَعَالَى فِي سُوْرَةِ الْحِجْرِ إِنَّا كَفَيْناكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلهاً آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ . وَقَدْ وَضَعَ الله جَلَّ ذِكْرُهُ الْوَعْدَ فِي صُوْرَةِ الْمَاضِي لِلتَّحَقُّقِ مِنْ وُقُوْعِهِ، لِأَنَّ الآيَةَ مَكِيَّةٌ وَهَلَاكُ هَذِهِ الْفِئَةِ كَانَ بَعْدَ الْهِجْرَةِ، فَمِنْهُمْ مَنْ قُتِلَ كَأَبِي جَهْلٍ وَالنَّضْرِ بْنِ الْحَارِثِ وَعُقْبَةِ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ ابْتَلَاهُ الله بِأَمْرَاضٍ شَدِيْدَةٍ فَهَلَكَ مِنْهَا كَأَبِي لَهَبٍ وَالْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ وَالْوَلِيْدِ بْنِ الْمُغِيْرَةِ.
Di aftara orang-orang yang menghina Rasulullah saw. terdapat pula AlAswad ibnu ‘Abdu Yaghuts z-Zuhriy al-Qurasyi. Ia berasal dari kalangan Bani Zahrah, paman (dari pihak ibu) Rasulullah saw. Apabila ia melihat para sahabat Nabi saw. datang, ia berkata, “Telah datang kepada kalian raja-raja besar,” dengan maksud mengejek mereka, karena mereka tampak sederhana sekali dan pakaian mereka penuh dengan tambalan, sedangkan kehidupan mereka miskin. Ia sering berkata kepada Rasulullah saw. dengan nada sinis, “Tidakkah hari ini engkau berbicara dari langit?” Orang lainnya yang sering menghina Rasulullah saw. ialah al Aswad ibnu ‘Abdul-Muththalib Al-Asadiy, anak lelaki paman Siti Khadijah. Dia dan golonganya, apabila bertemu dengan kaum Muslimin yang melewati mereka, saling mengedip-ngedipkan mata di antara sesama mereka dengan maksud mengejek kaum Muslimin. Dalam surah At-Tathfif terdapat ayatayat yang diturunkan berkenaan dengan sikap mereka itu, yaitu firmanNya: ,
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang sesat.” (Q.S. 83 At-Tathtif/ AlMuthaffin: 29-32)
Yang lain lagi yang menghina Rasulullah saw. ialah Al-Walid ibnul-Mughirah, paman Abu Jahal. Dia termasuk pembesar kabilah Quraisy dan kehidupannya mewah. Pada suatu ketika ia mendengar Al-Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah saw., lalu ia berkata kepada kaumnya, yaitu Bani Makhzum, “Demi Allah, tadi aku baru saja mendengar dari Muhammad suatu kalam yang bukan kalam manusia dan bukan pula kalam jin. Sesungguhnya kalam itu memiliki keindahan serta kecemerlangan: sesungguhnya (ibarat pohon) puncaknya penuh dengan buah dan di bawahnya (akarnya) sangat subur sekali: dan sesungguhnya ia sangat tinggi dan tidak ada yang melebihinya.”Maka orang-orang Quraisy berkata, “Demi Allah, Al-Walid sungguh telah masuk agama baru (Islam). Niscaya orang-orang Quraisy semua akan masuk agama baru itu.” Lalu Abu Jahal berkata kepada mereka, “Tenanglah, cukup aku sebagai pengganti kalian yang akan menyadarkannya. “Kemudian Abu Jahal pergi ke rumahnya. Sesampainya | di rumah Al Walid. ia duduk di hadapannya seraya bersedih dan berbicara | kepadanya dengan kata-kata yang membakar semangat kejahiliahannya.
Setelah Al-Walid mendengar hasutan Abu Jahal yang membakar itu, is segera bangkit dan langsung mendatangi orang-orang Quraisy, kemudian ia berkata kepada mereka, “Kalian menuduh Muhammad gila, apakah kalian pernah melihat dia ngelantur (gila)? Kalian telah mengatakan bahwa dia peramal: apakah kalian pernah melihatnya meramal? Kalian telah menuduhnya sebagai seorang penyair, apakah kalian per. nah melihat dia mengucapkan syair?
Kalian telah menuduhnya sebagai pendusta, apakah kalaian pernah mengalami/melihat dia berdusta dalam suatu hal?” Semua pertanyaan tersebut mereka jawab, tidak pernah. Kemudian mereka bertanya, “Kalau memang demikian, lalu dia menjadi apa” Lalu Al-Walid berpikir sejenak, kemudian berkata, “Dia tiada lain adalah seorang ahli sihir. Bukankah kalian telah melihat dia sering memisahkan seorang laki-laki dengan istri, anak, dan hamba-hamba sahayanya?” Setelah mendengar jawaban dari Al-Walid tersebut, orang-orang bersorak karena gembira sehingga aula tempat pertemuan mereka seolah-olah bergetar carena suara luapan kegembiraan mereka. Allah menurunkan firman-Nya sehubungan dengan sikap Al-Walid ini yang ditujukan kepada Rasulullah saw. khithab-nya yaitu:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah Aku ciptakan sendiri. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anakanak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah) karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Quran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akar memasukkannya ke dalam (neraka) Sagar. (Q.S. 74 Al-Muddatstsir: 1126)
Firman-Nya yang lain yang diturunkan sehubungan dengan Al-Walid ini, yaitu:
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian-kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain itu yang terkenal kejahatannya karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.” Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(-nya). (Q.5. 68 Al-QGalam: 10-15)
Hallaf artinya banyak bersumpah atau mudah mengeluarkan sumpah. Kami kira ayat ini cukup sebagai peringatan buat orang yang sering mengucapkannya.
Mahin artinya hina, dan makna yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang yang suka berdusta karena orang yang sering berdusta itu berarti menghina dirinya sendiri.
Hammazin artinya banyak mencela lagi jahat.
Masysyain binamimin artinya mempunyai kebiasaan memindah-mindahkan perkataan di antara manusia dengan tujuan menghasut (mengadu domba).
‘Utullin artinya kaku lagi kasar.
Zanim artinya sangat tercela lagi terkenal kejahatannya.
Al-khurthum merupakan ungkapan kinayah (kata kiasan) tentang menghina dan merendahkan. Karena wajah atau muka merupakan anggota tubuh manusia yang paling terhormat, sedangkan bagian muka yang paling mulia adalah hidung, maka orang Arab selalu memakainya untuk menunjukkan ungkapan yang mengandung arti kebesaran, seperti al-anafah yang artinya kebesaran jiwa. Memberi tanda (tatoo) pada anggota yang paling terhormat menunjuk kepada pengertian menghina dan merendahkan.
Orang lainnya lagi yang menghina Rasulullah saw. ialah An-Nadhr ibnul-Harits al-‘Abdari dari kalangan Bani ‘Abdud Dar, dan ‘Abdud-Dar adalah anak Qushay. Apabila Rasulullah saw. berada di dalam suatu majelis dalam rangka dakwah dan memberikan peringatan kepada mereka, kemudian apa yang dikemukakannya itu kelihatan mengena di hati mereka, maka An-Nadhr bangkit dan berkata, “Hai orang Quraisy, kemarilah! Sesungguhnya aku lebih baik daripada dia dalam berbicara.” Kemudian An-Nadhr mulai bercerita kepada mereka tentang kisah rajaraja Persia, sedangkan An-Nadhr sebelumnya telah mengetahui apa yang telah dibicarakan oleh Rasulullah saw. terhadap mereka. Lalu ia berkata menegaskan, “Tiada lain pembicaraan Muhammad itu hanyalah dongengan-dongengan (mitos) orang-orang dahulu.” Maka Allah swt menurunkan firman-Nya sehubungan dengan sikap An-Nadhr ini, yaitu:
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka Itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telingganya: maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (Q.S. 31 Lugman: 6-7)
Mereka semua yang telah kami sebutkan adalah orang-orang yang kelak pasti akan mendapat balasan azab dari Allah swt. sebagaimana yang telah disebutkan oleh firman-Nya:
Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang: orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah: maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). (Q.S. 15 Al-Hijr: 95-96)
Allah swt. telah menentukan ancaman-Nya melalui firman-Nya yang tadi (Al-Hijr) untuk diketahui bahwa ancaman-Nya itu benar-benar terjadi mengingat surat tersebut Makkiyah, sedangkan kebinasaan mereka, terjadi sesudah Hijrah. Di antara mereka ada yang mati terbunuh, yaitu seperti Abu Jahal, An-Nadhr ibnul Harits, dan ‘Ugbah ibnu Abu Mur’ith. Ada yang mati oleh sebab musibah yang ditimpakan Allah kepada mereka berupa penyakit yang berat sehingga mereka mati sesudah mengalami penderitaan yang hebat. Mereka yang mati karena penyakit yang berat sehingga mereka mati sesudah mengalami penderitaan yang hebat. Mereka yang mati karena penyakit adalah seperti Abu Labab, al-‘Ash ibnu Wail, dan Al-Walid ibnul-Mughirah.