Hijrah Kedua ke Habasyah: Kisah Pilu dan Hikmah di Balik Perjalanan Para Sahabat

Jelajahi kisah lengkap hijrah kedua ke Habasyah, perjalanan penuh tantangan para sahabat Nabi Muhammad SAW mencari perlindungan dari kekejaman Quraisy. Temukan fakta sejarah, peran Raja Najasyi, dan pelajaran berharga dari peristiwa hijrah ini yang membentuk fondasi Islam awal.


هِجْرَةُ الْحَبَشَةِ الثَّانِيَةِ

Hijrah Kedua ke Habasyah (Ethiopia)

وَبَعْدَ دُخُوْلِ الرَّسُوْلِ وَقَوْمِهِ الشِّعْبَ
Setelah Rasul ﷺ dan kaumnya masuk ke dalam lembah (Syi’b Abu Thalib)

أَمَرَ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ أَنْ يُهَاجِرُوْا لِلْحَبَشَةِ حَتَّى يُسَاعِدَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا عَلَى الْاِغْتِرَابِ
Beliau memerintahkan semua kaum Muslimin untuk berhijrah ke Habasyah, agar sebagian dari mereka bisa saling membantu dalam menjalani pengasingan.

فَهَاجَرَ مُعْظَمُهُمْ وَكَانُوْا نَحْوَ ثَلَاثَةٍ وَثَمَانِيْنَ رَجُلًا وَثَمَانِي عَشَرَ امْرَأَةً
Maka sebagian besar dari mereka pun hijrah, jumlahnya sekitar delapan puluh tiga laki-laki dan delapan belas wanita.

وَكَانَ مِنَ الرِّجَالِ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَزَوْجُهُ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ
Di antara laki-laki itu terdapat Ja'far bin Abi Thalib dan istrinya Asma' binti Umais.

وَالْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ، وَعُبَيْدُ اللهِ بْنُ جَحْشٍ، وَامْرَأَتُهُ أُمُّ حَبِيْبَةَ بِنْتُ أَبِي سُفْيَانَ
Juga al-Miqdad bin al-Aswad, Abdullah bin Mas’ud, Ubaidullah bin Jahsy dan istrinya Ummu Habibah binti Abu Sufyan.

وَتَوَجَّهَ لَهُمْ الَّذِيْنَ أَسْلَمُوْا مِنْ جِهَةِ الْيَمَنِ وَهُمُ الْأَشْعَرِيُّوْنَ: أَبُوْ مُوْسَى وَبَنُوْ عَمِّهِ
Mereka juga disusul oleh orang-orang yang masuk Islam dari arah Yaman, yaitu kaum Asy'ariyyin: Abu Musa dan anak-anak pamannya.

وَلَمَّا رَأَتْ قُرَيْشٌ ذَلِكَ أَرْسَلَتْ فِي أَثَرِهِمْ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ وَعُمَارَةَ بْنَ الْوَلِيْدِ
Ketika Quraisy melihat hal itu, mereka mengutus Amr bin al-‘Ash dan ‘Amarah bin al-Walid untuk mengejar mereka.

بِهَدَايَا إِلَى النَّجَاشِي لِيُسَلِّمَ الْمُسْلِمِيْنَ
Dengan membawa hadiah kepada Raja Najasyi agar ia menyerahkan kaum Muslimin kepada mereka.

فَرَجَعَا شَرَّ رَجْعَةٍ، وَلَمْ يَنَالَا مِنَ النَّجَاشِي إِلَّا إِهَانَةً
Namun keduanya pulang dengan kehinaan, tidak mendapatkan apa pun dari Najasyi selain penghinaan.

لِمَا خَاطَبُوْهُ بِهِ مِنِ اخْفَارِ ذِمَّتِهِ فِي قَوْمٍ لَاذُوْا بِهِ
Karena mereka telah mengajaknya mengkhianati perlindungannya terhadap suatu kaum yang telah berlindung kepadanya.

أَمَّا بَنُوْ هَاشِمٍ فَمَكَثُوْا فِي الشِّعْبِ قَرِيْبًا مِنْ ثَلَاثِ سَنَوَاتٍ فِي شِدَّةِ الْجُهْدِ وَالْبَلَاءِ
Adapun Bani Hasyim tetap tinggal di lembah itu (Syi’b Abu Thalib) selama hampir tiga tahun dalam keadaan sangat menderita dan penuh ujian.

لَا يَصِلُهُمْ شَيْءٌ مِنَ الطَّعَامِ إِلَّا خَفِيَّةً
Tidak ada makanan yang sampai kepada mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url