Kisah Pembatalan Piagam Pemboikotan Quraisy: Keteguhan Bani Hasyim dan Peran Para Tokoh Mekah
![]() |
Lima tokoh Quraisy bangkit membatalkan piagam zalim atas Bani Hasyim. Inilah kisah keberanian dan kemanusiaan di tengah tekanan politik Mekah. |
نَقْضُ الصَّحِيفَةِ
"Pembatalan Piagam"
وَقَدْ قَامَ خَمْسَةٌ مِنْ أَشْرَافِ قُرَيْشٍ يُطَالِبُونَ بِنَقْضِ هٰذِهِ الصَّحِيفَةِ الظَّالِمَةِ
"Lima orang dari tokoh-tokoh Quraisy bangkit menuntut pembatalan piagam yang zalim ini."
وَهُمْ: هِشَامُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ الْعَامِرِيُّ، وَهُوَ أَعْظَمُهُمْ فِي ذٰلِكَ بَلَاءً
"Mereka adalah: Hisham bin Amru bin al-Harits al-‘Āmirī, dan dialah yang paling besar jasanya dalam hal ini."
وَزُهَيْرُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ الْمَخْزُومِيُّ، ابْنُ عَمَّةِ الرَّسُولِ عَاتِكَةَ
"Dan Zuhair bin Abi Umayyah al-Makhzumi, anak dari bibi Rasulullah ﷺ, yaitu ‘Atikah."
وَالْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ النَّوْفَلِيُّ، وَأَبُو الْبُخْتُرِيِّ بْنُ هِشَامٍ الْأَسَدِيُّ، وَزَمْعَةُ بْنُ الْأَسْوَدِ الْأَسَدِيُّ
"Juga al-Muth’im bin ‘Adiy an-Nawfalī, Abu al-Bukhturī bin Hisham al-Asadī, dan Zam’ah bin al-Aswad al-Asadī."
وَاتَّفَقُوا عَلَىٰ ذٰلِكَ لَيْلًا
"Mereka sepakat untuk melakukan itu pada malam hari."
فَلَمَّا أَصْبَحُوا غَدَا زُهَيْرٌ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ، فَطَافَ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ:
"Ketika pagi tiba, Zuhair keluar memakai pakaian mewah, lalu ia thawaf di Ka'bah, kemudian menghadap kepada orang-orang dan berkata:"
يَا أَهْلَ مَكَّةَ! أَنَأْكُلُ الطَّعَامَ وَنَلْبَسُ الثِّيَابَ وَبَنُو هَاشِمٍ وَالْمُطَّلِبُ هَلْكَىٰ، لَا يَبِيعُونَ وَلَا يَبْتَاعُونَ! وَاللَّهِ لَا أَقْعُدُ حَتَّىٰ تُشَقَّ هٰذِهِ الصَّحِيفَةُ الظَّالِمَةُ الْقَاطِعَةُ.
"Wahai penduduk Mekah! Apakah kita makan makanan dan memakai pakaian, sementara Bani Hasyim dan Bani al-Muthallib binasa, tidak bisa menjual maupun membeli? Demi Allah, aku tidak akan duduk (diam) sampai piagam yang zalim dan pemutus tali silaturrahim ini disobek!"
فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ: كَذَبْتَ!
"Abu Jahl berkata: 'Engkau bohong!'"
فَقَالَ زَمْعَةُ لِأَبِي جَهْلٍ: أَنْتَ وَاللَّهِ أَكْذَبُ! مَا رَضِينَا كِتَابَتَهَا حِينَ كُتِبَتْ.
"Zam’ah berkata kepada Abu Jahl: 'Engkaulah yang berdusta, demi Allah! Kami tidak pernah ridha dengan penulisannya sejak awal.'"
فَقَالَ أَبُو الْبُخْتُرِيِّ: صَدَقَ زَمْعَةُ
"Abu al-Bukhturī berkata: 'Zam’ah benar.'"
وَقَالَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ: صَدَقْتُمَا، وَكَذَبَ مَنْ قَالَ غَيْرَ ذٰلِكَ
"Al-Muth’im bin ‘Adiyy berkata: 'Kalian berdua benar, dan siapa pun yang berkata selain itu telah berdusta.'"
وَصَدَّقَ عَلَىٰ مَا قِيلَ هِشَامُ بْنُ عَمْرٍو
"Dan membenarkan hal itu pula Hisham bin ‘Amru."
فَقَامَ إِلَيْهَا الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ فَشَقَّهَا
"Lalu al-Muth’im bin ‘Adiyy berdiri menuju piagam itu dan menyobeknya."
وَكَانَتِ الْأَرَضَةُ قَدْ أَكَلَتْهَا، فَلَمْ يَبْقَ فِيهَا إِلَّا مَا فِيهِ اسْمُ اللَّهِ
"Dan ternyata rayap telah memakannya, sehingga tidak tersisa kecuali bagian yang terdapat nama Allah."
وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ ﷺ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ بِذٰلِكَ قَبْلَ أَنْ يَفْعَلَ مَا ذُكِرَ
"Dan Nabi ﷺ telah mengabarkan hal itu kepada pamannya, Abu Thalib, sebelum kejadian itu terjadi."
فَخَرَجَ الْقَوْمُ إِلَىٰ مَسَاكِنِهِمْ بَعْدَ هٰذِهِ الشِّدَّةِ
"Kemudian orang-orang pun kembali ke tempat tinggal mereka setelah masa penderitaan ini berakhir."
