Peristiwa Isra' Mi'raj dan Kewajiban Shalat 5 Waktu



 الإِسْرَاءُ وَالْمِعْرَاجُ

Isra’ dan Mi’raj

وَقَبْلَ الْهِجْرَةِ أَكْرَمَهُ اللهُ بِالْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ

Sebelum hijrah, Allah memuliakannya dengan Isra’ dan Mi’raj.

أَمَّا الْإِسْرَاءُ فَهُوَ تَوَجُّهُهُ لَيْلًا إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِإِيلِيَاءَ وَرُجُوعُهُ مِنْ لَيْلَتِهِ

Adapun Isra’, yaitu perjalanannya di malam hari menuju Baitul Maqdis di Iliya’ dan kembalinya pada malam itu juga.

وَأَمَّا الْمِعْرَاجُ فَهُوَ صُعُودُهُ إِلَى الْعَالَمِ الْعُلْوِيِّ

Sedangkan Mi’raj adalah naiknya beliau ke alam atas.

وَقَدْ قَالَ جُمْهُورُ أَهْلِ السُّنَّةِ: إِنَّ ذَلِكَ كَانَ بِجِسْمِهِ الشَّرِيفِ

Mayoritas Ahlus Sunnah berkata: Sesungguhnya itu terjadi dengan jasad beliau yang mulia.

وَكَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَمْنَعُ رُؤْيَةَ رَسُولِ اللهِ رَبَّهُ

Aisyah ra. berpendapat menolak bahwa Rasulullah melihat Rabb-nya.

وَتَقُولُ: مَنْ قَالَ: إِنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ الْفِرْيَةَ عَلَى اللهِ

Dan ia berkata: “Barangsiapa mengatakan bahwa Muhammad telah melihat Rabb-nya, maka sungguh ia telah membuat kedustaan besar terhadap Allah.”

وَالْإِسْرَاءُ مَذْكُورٌ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ


Isra’ disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim.

قَالَ تَعَالَى فِي أَوَّلِ سُورَةِ الْإِسْرَاءِ


Allah Ta’ala berfirman di awal Surah Al-Isra’:

﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾


Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekitarnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

وَأَمَّا الْمِعْرَاجُ فَقَدْ وَرَدَ فِي صَحِيحِ السُّنَّةِ


Adapun Mi’raj, maka ia disebutkan dalam Sunnah yang shahih.

وَأَصَحُّ أَحَادِيثِهِ مَا رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَنَقَلَهُ الْقَاضِي عِيَاضٌ فِي شِفَائِهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ


Dan hadits yang paling shahih tentang hal itu adalah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan dinukil oleh Qadhi Iyadh dalam kitab Asy-Syifa’ dari Anas bin Malik ra.

قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Anas berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ (وَهُوَ دَابَّةٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ)


Aku didatangkan seekor Buraq (yaitu hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, ia meletakkan telapak kakinya sejauh pandangan matanya).

قَالَ: فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي تُرْبَطُ بِهَا الْأَنْبِيَاءُ


Lalu aku menungganginya hingga sampai di Baitul Maqdis, lalu aku mengikatnya pada tempat yang biasa digunakan para nabi mengikat hewan tunggangannya.

ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ، فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ


Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat di dalamnya dua rakaat.

ثُمَّ خَرَجْتُ، فَأَتَانِي جِبْرِيلُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ


Kemudian aku keluar, lalu Jibril mendatangiku dengan membawa sebuah bejana berisi khamr dan sebuah bejana berisi susu, maka aku memilih susu.

فَقَالَ جِبْرِيلُ: اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ»


Maka Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah.”

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ


Kemudian kami diangkat ke langit, lalu Jibril meminta izin untuk masuk.

فَقِيلَ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: جِبْرِيلُ


Maka ditanyakan: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Jibril.”

قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ


Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad.”

قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ


Ditanyakan: “Apakah sudah diutus kepadanya?” Ia menjawab: “Ya, sudah diutus kepadanya.”

فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ


Maka dibukakan pintu untuk kami, ternyata ada Adam. Ia menyambutku dengan ramah dan mendoakanku dengan kebaikan.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ


Kemudian kami diangkat ke langit kedua, lalu Jibril meminta izin untuk masuk.

فَقِيلَ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ


Maka ditanyakan: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Ia menjawab: “Muhammad.”

قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ


Ditanyakan: “Apakah sudah diutus kepadanya?” Ia menjawab: “Ya, sudah diutus kepadanya.”

فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِابْنَيِ الْخَالَةِ يَحْيَى وَعِيسَى بْنِ مَرْيَمَ، فَرَحَّبَا بِي وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ


Maka dibukakan untuk kami, tiba-tiba aku bertemu dua anak paman, yaitu Yahya dan Isa bin Maryam. Keduanya menyambutku dengan ramah dan mendoakanku dengan kebaikan.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَذَكَرَ مِثْلَ الْأَوَّلِ


Kemudian kami diangkat ke langit ketiga, lalu disebutkan dialog yang sama seperti sebelumnya.

فَفُتِحَ لَنَا، وَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ، وَإِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ


Maka dibukakan untuk kami, tiba-tiba aku bertemu Yusuf, ternyata ia telah diberi setengah dari keelokan rupa. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَذَكَرَ مِثْلَهُ


Kemudian kami diangkat ke langit keempat, lalu disebutkan dialog yang sama.

فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيسَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ


Maka aku bertemu Idris, ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

قَالَ تَعَالَى فِي سُورَةِ مَرْيَمَ: ﴿وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا﴾


Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Maryam: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ، فَذَكَرَ مِثْلَهُ، فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ


Kemudian kami diangkat ke langit kelima, lalu disebutkan dialog yang sama, maka aku bertemu Harun. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَذَكَرَ مِثْلَهُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ


Kemudian kami diangkat ke langit keenam, lalu disebutkan dialog yang sama, maka aku bertemu Musa. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.


ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَذَكَرَ مِثْلَهُ، فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ.


Kemudian aku dibawa naik ke langit ketujuh, lalu disebutkan hal yang sama, ternyata aku bertemu dengan Ibrahim yang sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma‘mur. Dan ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat memasukinya dan mereka tidak kembali lagi kepadanya.

ثُمَّ ذُهِبَ بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، فَإِذَا أَوْرَاقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلَالِ.


Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntahā, ternyata daun-daunnya seperti telinga gajah, dan buah-buahannya seperti kendi besar.

فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ رَبِّي مَا غَشِيَهَا تَغَيَّرَتْ، فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا.


Ketika tertutup oleh sesuatu dari urusan Tuhanku apa yang menutupinya, maka ia berubah. Tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya.

فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى، فَفَرَضَ عَلَيَّ وَعَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ.


Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan, maka Dia mewajibkan atasku dan atas umatku lima puluh salat setiap hari dan malam.

فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلَاةً. قَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَسَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ.


Maka aku turun kepada Musa, lalu ia berkata: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab: “Lima puluh salat.” Ia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.”

فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَبْلَكَ وَخَبَرْتُهُمْ.


Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil sebelum engkau dan aku telah mengetahui keadaan mereka.

قَالَ: فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ لَهُ: يَا رَبِّ خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي، فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا.


Maka aku kembali kepada Tuhanku lalu aku berkata: “Wahai Rabbku, ringankanlah atas umatku.” Maka Dia mengurangi lima dariku.

فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ، فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَسَلْهُ التَّخْفِيفَ.


Aku kembali kepada Musa, lalu aku berkata: “Allah telah mengurangi lima dariku.” Ia berkata: “Sesungguhnya umatmu tetap tidak sanggup, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.”

قَالَ: فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى حَتَّى قَالَ سُبْحَانَهُ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ فَتِلْكَ خَمْسُونَ صَلَاةً.


Aku terus-menerus kembali antara Tuhanku dan Musa hingga Allah berfirman: “Wahai Muhammad, sesungguhnya ia tetap lima salat setiap hari dan malam, setiap salat bernilai sepuluh, maka itu sama dengan lima puluh salat.”

وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا.


Barang siapa berniat melakukan kebaikan lalu tidak melakukannya, maka ditulis baginya satu kebaikan. Dan barang siapa berniat melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan.

وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ لَهُ شَيْئًا، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ عَلَيْهِ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.


Dan barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, maka tidak ditulis baginya apa-apa. Tetapi barang siapa berniat melakukan keburukan lalu melakukannya, maka ditulis baginya satu keburukan saja.

قَالَ: فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَسَلْهُ التَّخْفِيفَ. فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ.


Aku pun turun hingga sampai kepada Musa dan aku mengabarkan kepadanya. Ia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.” Aku berkata: “Aku sudah kembali kepada Tuhanku hingga aku merasa malu kepada-Nya.”

ثُمَّ رَجَعَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مِنْ لَيْلَتِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحَ إِلَى نَادِي قُرَيْشٍ، فَجَاءَ إِلَيْهِ أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ، فَحَدَّثَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا جَرَى لَهُ.


Kemudian beliau ﷺ kembali pada malam itu juga. Ketika pagi hari, beliau menuju ke majelis Quraisy. Lalu datang Abu Jahl bin Hisyam kepadanya. Maka Rasulullah ﷺ menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi padanya.

فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ: يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ هَلُمُّوا. فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ كُفَّارُ قُرَيْشٍ، فَأَخْبَرَهُمُ الرَّسُولُ الْخَبَرَ.


Maka Abu Jahl berkata: “Wahai Bani Ka‘b bin Lu’ayy, mari berkumpul!” Lalu orang-orang kafir Quraisy mendatanginya, dan Rasulullah menyampaikan berita itu kepada mereka.

فَصَارُوا بَيْنَ مُصَفِّقٍ وَوَاضِعٍ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ تَعَجُّبًا وَإِنْكَارًا.


Mereka pun ada yang bertepuk tangan, ada yang meletakkan tangannya di atas kepalanya sebagai tanda heran dan ingkar.

وَارْتَدَّ نَاسٌ مِمَّنْ كَانَ آمَنَ بِهِ مِنْ ضِعَافِ الْقُلُوبِ.


Sebagian orang yang lemah hatinya dari kalangan yang sebelumnya beriman, murtad (kembali kafir).

وَسَعَى رِجَالٌ إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ: إِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ.


Lalu beberapa orang mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya. Ia pun menjawab: “Jika memang beliau yang mengatakan hal itu, maka sungguh beliau benar.”

قَالُوا: أَتُصَدِّقُهُ عَلَى ذَلِكَ؟ قَالَ: إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ عَلَى أَبْعَدَ مِنْ ذَلِكَ.

Mereka berkata: “Apakah engkau membenarkannya dalam hal ini?” Ia menjawab: “Sesungguhnya aku membenarkannya pada hal yang lebih jauh daripada itu.”

فَسُمِّيَ مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ صِدِّيقًا.


Maka sejak hari itu ia diberi julukan “As-Ṣiddīq” (yang membenarkan).

ثُمَّ قَامَ الْكُفَّارُ يَمْتَحِنُونَ رَسُولَ اللَّهِ فَسَأَلُوهُ نَعْتَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَفِيهِمْ رِجَالٌ رَأَوْهُ.


Kemudian orang-orang kafir berdiri menguji Rasulullah, mereka menanyainya tentang gambaran Baitul Maqdis, padahal di antara mereka ada orang-orang yang pernah melihatnya.

أَمَّا رَسُولُ اللَّهِ فَلَمْ يَكُنْ رَآهُ قَبْلَ ذَلِكَ، فَجَلَّاهُ اللَّهُ لَهُ فَصَارَ يَصِفُهُ لَهُمْ بَابًا بَابًا وَمَوْضِعًا مَوْضِعًا.


Adapun Rasulullah ﷺ, beliau sebelumnya belum pernah melihatnya (Baitul Maqdis). Maka Allah memperlihatkannya dengan jelas kepadanya, sehingga beliau pun menggambarkannya kepada mereka, pintu demi pintu dan tempat demi tempat.

فَقَالُوا: أَمَّا النَّعْتُ فَقَدْ أَصَابَ، فَأَخْبِرْنَا عَنْ عِيرِنَا، وَكَانَتْ لَهُمْ عِيرٌ قَادِمَةٌ مِنَ الشَّامِ.


Mereka berkata: “Adapun dalam hal gambaran, maka ia benar. Sekarang ceritakan kepada kami tentang kafilah kami.” Kebetulan mereka memang memiliki kafilah dagang yang sedang datang dari Syam.

فَأَخْبَرَهُمْ بِعَدَدِ جِمَالِهَا وَأَحْوَالِهَا، وَقَالَ: تَقْدُمُ يَوْمَ كَذَا مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ يُقَدِّمُهَا جَمَلٌ أَوْرَقُ.


Maka beliau memberitahu mereka jumlah unta dan keadaan kafilah itu, lalu berkata: “Kafilah itu akan tiba pada hari sekian, bersamaan dengan terbitnya matahari, dipimpin oleh seekor unta berwarna kelabu.”

فَخَرَجُوا يَشْتَدُّونَ ذَلِكَ الْيَوْمَ نَحْوَ الثَّنِيَّةِ.


Maka pada hari yang disebutkan itu, mereka bergegas menuju ke perbukitan (untuk memastikan kedatangan kafilah).

فَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ: هَذِهِ وَاللَّهِ الشَّمْسُ قَدْ أَشْرَقَتْ.


Salah seorang dari mereka berkata: “Demi Allah, ini matahari sudah terbit.”

فَقَالَ آخَرُ: وَهَذِهِ وَاللَّهِ الْعِيرُ قَدْ أَقْبَلَتْ يُقَدِّمُهَا جَمَلٌ أَوْرَقُ كَمَا قَالَ مُحَمَّدٌ.


Orang lain berkata: “Dan ini, demi Allah, kafilah itu telah datang, dipimpin seekor unta berwarna kelabu, persis seperti yang dikatakan Muhammad.”

فَلَمْ يَزِدْهُمْ ذَلِكَ إِلَّا كِبْرًا وَعِنَادًا، حَتَّى قَالُوا: هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ.


Namun hal itu tidak menambah mereka kecuali kesombongan dan penentangan, sampai akhirnya mereka berkata: “Ini hanyalah sihir yang nyata.”

وَفِي صَبِيحَةِ لَيْلَةِ الْإِسْرَاءِ جَاءَ جِبْرِيلُ وَعَلَّمَ رَسُولَ اللَّهِ كَيْفِيَّةَ الصَّلَاةِ وَأَوْقَاتَهَا.


Dan pada pagi hari setelah malam Isra’, Jibril datang dan mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ tata cara salat dan waktunya.

فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ إِذَا ظَهَرَ الْفَجْرُ، وَأَرْبَعَ رَكَعَاتٍ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، وَمِثْلَهَا إِذَا ضُوعِفَ ظِلُّ الشَّيْءِ، وَثَلَاثًا إِذَا غَرَبَتْ، وَأَرْبَعًا إِذَا غَابَ الشَّفَقُ الْأَحْمَرُ.


Maka beliau salat dua rakaat ketika fajar terbit, empat rakaat ketika matahari tergelincir (zuhur), empat rakaat lagi ketika bayangan suatu benda menjadi dua kali lipat (ashar), tiga rakaat ketika matahari terbenam (maghrib), dan empat rakaat ketika cahaya merah senja telah hilang (isya).

وَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَبْلَ مَشْرُوعِيَّةِ الصَّلَاةِ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ صَبَاحًا وَمِثْلَهُمَا مَسَاءً كَمَا كَانَ يَفْعَلُ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ.


Dan Rasulullah ﷺ sebelum diwajibkannya salat, biasa mengerjakan dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada sore hari, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url