Kisah Terjalinnya Persaudaraan Kaum Muhajirin dan Anshar


  أُخُوَّةُ الإِسْلَامِ

Persaudaraan Islam 

 وَمَنْ يَتَأَمَّلْ إِلَى هٰذِهِ الْمَحَبَّةِ الَّتِي يَسْتَحِيلُ أَنْ تَكُونَ بِتَأْثِيرِ بَشَرٍ، بَلْ بِفَضْلٍ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، يَفْهَمْ كَيْفَ انْتَصَرَ هٰؤُلَاءِ الْأَقْوَامُ عَلَىٰ مُعَانِدِيهِمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلِ الْكِتَابِ، مَعَ قِلَّةِ الْعَدَدِ وَالْعُدَدِ.

Barang siapa merenungkan cinta kasih ini—yang mustahil muncul karena pengaruh manusia, melainkan karena karunia dan rahmat Allah—niscaya ia akan memahami bagaimana kaum-kaum tersebut mampu mengalahkan para penentang mereka dari kalangan orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, meskipun jumlah dan perlengkapan mereka sedikit.

 وَكَانَ الْأَنْصَارُ يُؤْثِرُونَ إِخْوَانَهُمُ الْمُهَاجِرِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ، قَالَ تَعَالَىٰ فِي سُورَةِ الْحَشْرِ:

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ، وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ «٤».

Kaum Anshar mengutamakan saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri. Allah Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Hasyr:
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka, mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang itu; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

 وَهٰذِهِ أَعْلَىٰ دَرَجَاتِ الْأُخُوَّةِ، وَكُلُّ ذٰلِكَ كَانُوا يَرَوْنَهُ قَلِيلًا بِالنِّسْبَةِ لِمَا وَجَبَ عَلَيْهِمْ لِإِخْوَانِهِمْ.

Inilah derajat persaudaraan yang paling tinggi, dan semua itu mereka anggap masih sedikit dibandingkan kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada saudara-saudara mereka.

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُمَكِّنَ بَيْنَهُمُ الْإِخَاءَ، آخَىٰ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، فَكَانَ كُلُّ أَنْصَارِيٍّ وَنََزِيلِهِ أَخَوَيْنِ فِي اللَّهِ.

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ, untuk meneguhkan persaudaraan di antara mereka, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga setiap orang Anshar dan pendatang yang tinggal bersamanya menjadi dua bersaudara karena Allah.

وَمِنَ الْعَبَثِ أَنْ نُكَلِّفَ الْقَلَمَ أَنْ يُوَضِّحَ لِلْقَارِئِ أَنَّ هٰذِهِ الْأُخُوَّةَ كَانَتْ أَرْقَىٰ بِكَثِيرٍ مِنَ الْأُخُوَّةِ الْعَصَبِيَّةِ، بَلْ نَكِلُ ذٰلِكَ لِلْإِحْسَاسِ الْإِسْلَامِيِّ، فَإِنَّهُ أَفْصَحُ مَنْطِقًا مِنَ الْقَلَمِ.

Adalah suatu hal yang sia-sia jika pena dipaksa menjelaskan kepada pembaca bahwa persaudaraan ini jauh lebih luhur daripada persaudaraan yang bersifat kesukuan; hal itu cukup diserahkan kepada nurani keislaman, karena ia lebih fasih berbicara daripada pena.

وَعَلَى الْإِجْمَالِ فَتِلْكَ قُلُوبٌ أَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَهَا حَتَّىٰ صَارَتْ شَيْئًا وَاحِدًا فِي أَجْسَامٍ مُتَفَرِّقَةٍ.

Secara ringkas, itulah hati-hati yang Allah satukan sehingga menjadi satu kesatuan dalam tubuh-tubuh yang terpisah.

وَعَسَى اللَّهُ أَنْ يُوَفِّقَ مُسْلِمِي عَصْرِنَا إِلَىٰ هٰذَا الْإِخَاءِ حَتَّىٰ يَسُودُوا كَمَا سَادَ الْمُتَّحِدُونَ.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kaum Muslimin di zaman kita untuk meraih persaudaraan seperti ini, sehingga mereka kembali berjaya sebagaimana orang-orang yang bersatu dahulu.

وَكَانَ هٰذَا الْإِخَاءُ عَلَى الْمُوَاسَاةِ وَالْحَقِّ، وَأَنْ يَتَوَارَثُوا بَعْدَ الْمَوْتِ دُونَ ذَوِي الْأَرْحَامِ.

Persaudaraan ini dibangun atas dasar saling menolong dan kebenaran, bahkan mereka saling mewarisi setelah kematian, bukan kepada kerabat sedarah.

وَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ لِكُلِّ اثْنَيْنِ تَآخَيَا فِي اللَّهِ: «أَخَوَيْنِ أَخَوَيْنِ» «١»، وَدَامَ هٰذَا الْمِيرَاثُ إِلَىٰ أَنْ نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَىٰ فِي سُورَةِ الْأَحْزَابِ:

وَأُولُوا الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ «٢».

Beliau ﷺ biasa berkata kepada setiap dua orang yang dipersaudarakan karena Allah, “Kalian berdua adalah saudara, kalian berdua adalah saudara.” Persaudaraan yang disertai hak waris ini berlangsung hingga turun firman Allah Ta‘ala dalam Surah Al-Ahzab:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan darah itu lebih berhak satu sama lain menurut Kitab Allah.”

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url