Kisah Rasulullah Tinggal di Rumah Abu Ayyub Al-Anshari
النُّزُولُ عَلَى أَبِي أَيُّوبَ
Singgah di Rumah Abu Ayyub
ثُمَّ سَارُوا، وَكُلَّمَا مَرُّوا عَلَى دَارٍ مِنْ دُورِ الْأَنْصَارِ، يَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ أَهْلُهَا بِأَنْ يَنْزِلَ عِنْدَهُمْ، وَيَأْخُذُونَ بِزِمَامِ النَّاقَةِ، فَيَقُولُ: دَعُوهَا فَإِنَّهَا مَأْمُورَةٌ.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Setiap kali melewati sebuah rumah dari rumah-rumah kaum Anshar, para penghuninya memohon dengan sungguh-sungguh agar beliau singgah di tempat mereka, bahkan mereka memegang tali kekang unta itu. Maka beliau bersabda: “Biarkanlah ia, karena sesungguhnya ia diperintah (oleh Allah).”
تَزَلْ سَائِرَةً حَتَّى أَتَتْ بِفِنَاءِ بَنِي عَدِيِّ بْنِ النَّجَّارِ ـ وَهُمْ أَخْوَالُهُ الَّذِينَ تَزَوَّجَ مِنْهُمْ هَاشِمٌ جَدُّهُ ـ فَبَرَكَتْ بِمَحَلَّةٍ مِنْ مَحَلَّاتِهِمْ أَمَامَ دَارِ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ، وَاسْمُهُ خَالِدُ بْنُ زَيْدٍ.
Unta itu terus berjalan hingga sampai di halaman Bani ‘Adi bin an-Najjar—mereka adalah paman-paman dari pihak ibu beliau, tempat kakeknya Hasyim pernah menikah—lalu ia berhenti dan berlutut di salah satu kawasan mereka, tepat di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari, yang bernama Khalid bin Zaid.
وَذَلِكَ مَحَلُّ مَسْجِدِهِ الشَّرِيفِ، فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: هَهُنَا الْمَنْزِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ.
Tempat itu kelak menjadi lokasi masjid beliau yang mulia. Maka beliau ﷺ bersabda: “Di sinilah tempat tinggal, insya Allah. Wahai Tuhanku, tempatkanlah aku di tempat yang penuh berkah, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat tinggal.”
فَاحْتَمَلَ أَبُو أَيُّوبَ رَحْلَهُ وَوَضَعَهُ فِي مَنْزِلِهِ، وَجَاءَ أَسْعَدُ بْنُ زُرَارَةَ فَأَخَذَ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَكَانَتْ عِنْدَهُ.
Abu Ayyub pun mengangkat barang-barang beliau dan meletakkannya di rumahnya. Kemudian datang As‘ad bin Zurarah, lalu memegang tali kekang unta beliau sehingga unta itu berada dalam tanggungannya.
وَخَرَجَتْ وَلَائِدُ النَّجَّارِ يَقُلْنَ: نَحْنُ جِوَارٌ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ … يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِنْ جَارِ
Gadis-gadis Bani an-Najjar pun keluar sambil melantunkan syair: “Kami adalah tetangga dari Bani an-Najjar … Betapa indahnya Muhammad sebagai tetangga.”
فَخَرَجَ إِلَيْهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَتُحِبِبْنَنِي؟ فَقُلْنَ: نَعَمْ. فَقَالَ: اللَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ قَلْبِي يُحِبُّكُنَّ.
Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dan bersabda: “Apakah kalian mencintaiku?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau pun bersabda: “Allah mengetahui bahwa hatiku mencintai kalian.”
وَاخْتَارَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ النُّزُولَ فِي الدُّورِ الْأَسْفَلِ مِنْ دَارِ أَبِي أَيُّوبَ لِيَكُونَ أَرْيَحَ لِزَائِرِيهِ.
Rasulullah ﷺ memilih tinggal di bagian bawah rumah Abu Ayyub agar lebih mudah dan nyaman bagi para tamu yang datang berkunjung.
وَلَكِنْ لَمْ يَرْضَ أَبُو أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ذَلِكَ كَرَامَةً لِرَسُولِ اللَّهِ، خَوْفًا مِمَّا قَدْ يُصِيبُهُ مِنَ التُّرَابِ أَوِ الْمَاءِ.
Namun Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu tidak merelakannya, sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah, karena khawatir debu dari pijakan kaki atau air yang tertumpah dapat mengenai beliau.
Pernah suatu malam kendi air istrinya pecah, lalu ia dan istrinya bangun dan menggunakan selimut mereka—yang itu satu-satunya milik mereka—untuk menyerap air, karena khawatir air itu sampai kepada Rasulullah.
Karena itulah Abu Ayyub terus membujuk beliau hingga akhirnya Rasulullah tinggal di lantai atas.
وَكَانَتْ تَأْتِيهِ الْجِفَانُ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ سَرَاةِ الْأَنْصَارِ، كَسَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ وَأَسْعَدِ بْنِ زُرَارَةَ وَأُمِّ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ.
Setiap malam, hidangan-hidangan makanan datang kepada beliau dari para tokoh Anshar, seperti Sa‘d bin ‘Ubadah, As‘ad bin Zurarah, dan ibu Zaid bin Tsabit.
فَمَا مِنْ لَيْلَةٍ إِلَّا وَعَلَى بَابِهِ الثَّلَاثُ أَوِ الْأَرْبَعُ مِنْ جِفَانِ الثَّرِيدِ.
Tidak ada satu malam pun kecuali di depan pintu beliau terdapat tiga atau empat hidangan besar berupa tsarid.
=====================
نُزُولُ الْمُهَاجِرِينَ
Persinggahan Kaum Muhajirin
وَلَمَّا تَحَوَّلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَغْلَبُ الْمُهَاجِرِينَ، تَنَافَسَ فِيهِمُ الْأَنْصَارُ.
Ketika sebagian besar kaum Muhajirin berpindah bersama Rasulullah ﷺ, kaum Anshar berlomba-lomba dalam memuliakan dan menampung mereka.
فَحَكَّمُوا الْقُرْعَةَ بَيْنَهُمْ، فَمَا نَزَلَ مُهَاجِرِيٌّ عَلَى أَنْصَارِيٍّ إِلَّا بِقُرْعَةٍ.
Maka mereka menetapkan undian di antara mereka; tidaklah seorang Muhajir tinggal di rumah seorang Anshar kecuali melalui undian.
