Yahudi Madinah: Sejarah, Hasad, dan Penolakan Kebenaran
يَهُودُ الْمَدِينَةِ
Yahudi Madinah.
هَذَا وَكَمَا ابْتَلَى اللَّهُ الْمُسْلِمِينَ فِي مَكَّةَ بِمُشْرِكِي قُرَيْشٍ، ابْتَلَاهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بِيَهُودِهَا، وَهُمْ بَنُو قَيْنُقَاعَ وَقُرَيْظَةَ وَالنَّضِيرُ،
Demikian pula, sebagaimana Allah menguji kaum muslimin di Makkah dengan orang-orang musyrik Quraisy, Allah juga menguji mereka di Madinah dengan kaum Yahudi, yaitu Bani Qainuqa’, Quraizhah, dan Nadhir.
فَإِنَّهُمْ أَظْهَرُوا الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ،
Maka mereka menampakkan permusuhan dan kebencian karena dengki dari diri mereka sendiri setelah jelas bagi mereka bahwa (Islam) itu adalah kebenaran.
وَكَانُوا قَبْلَ مَجِيءِ الرَّسُولِ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْعَرَبِ إِذَا شَبَّتِ الْحَرْبُ بَيْنَ الْفَرِيقَيْنِ بِنَبِيٍّ يُبْعَثُ قَدْ قَرُبَ زَمَانُهُ،
Dan sebelum datangnya Rasul, mereka biasa memohon kemenangan atas orang-orang musyrik Arab ketika terjadi peperangan antara kedua kelompok, dengan (menyebut akan datangnya) seorang nabi yang akan diutus yang waktunya telah dekat.
لَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا اسْتَعْظَمَ رُؤَسَاؤُهُمْ أَنْ تَكُونَ النُّبُوَّةُ فِي وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، فَكَفَرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا،
Namun ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka kenal, para pemimpin mereka menganggap besar (tidak pantas) bahwa kenabian berada pada keturunan Ismail, maka mereka pun kafir terhadap apa yang Allah turunkan karena kedengkian.
مَعَ أَنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ مُحَمَّدًا لَمْ يَأْتِ إِلَّا مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ كُتُبِ اللَّهِ الَّتِي أَنْزَلَهَا عَلَى مَنْ سَبَقَهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ، مُبَيِّنًا مَا أَفْسَدَهُ التَّأْوِيلُ مِنْهَا،
Padahal mereka melihat bahwa Rasulullah Muhammad tidak datang kecuali membenarkan kitab-kitab Allah sebelumnya yang diturunkan kepada para rasul sebelum beliau, serta menjelaskan bagian-bagian yang telah diselewengkan penafsirannya.
وَلَكِنَّهُمْ نَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ.
Namun mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka seolah-olah mereka tidak mengetahui.
وَمِمَّا عَابُوهُ عَلَى الْإِسْلَامِ نَسْخُ الْأَحْكَامِ،
Di antara hal yang mereka cela terhadap Islam adalah adanya penghapusan (nasakh) hukum.
وَمَا دَرَوْا أَنَّ الْقَادِرَ الْعَلِيمَ يَعْلَمُ مَا يَحْتَاجُهُ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ مَيَّالٌ بِطَبْعِهِ لِلتَّرَقِّي،
Padahal mereka tidak mengetahui bahwa Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui lebih mengetahui apa yang dibutuhkan manusia daripada mereka, karena manusia secara tabiat cenderung berkembang.
وَالرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وُجِدَ بَادِئَ بَدْءٍ بَيْنَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْعَرَبِ أُمِّيِّينَ لَيْسُوا عَلَى شَيْءٍ مِنَ الِاعْتِقَادَاتِ الْإِلَهِيَّةِ،
Dan Rasulullah pada awalnya berada di tengah kaum Arab yang ummi (tidak berilmu), yang tidak memiliki keyakinan ketuhanan yang benar.
فَكَانَتِ الْحِكْمَةُ دَاعِيَةً لِأَنْ يَكُونَ التَّشْرِيعُ لَهُمْ عَلَى التَّدْرِيجِ،
Maka hikmah menuntut agar syariat diturunkan kepada mereka secara bertahap.
لِأَنَّهُ لَوْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ شُرْبَ الْخَمْرِ وَأَكْلَ الرِّبَا، وَأَمَرَهُمْ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَهَكَذَا إِلَى آخِرِ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي،
Karena jika Allah langsung mengharamkan khamr dan riba serta memerintahkan shalat, zakat, dan seluruh perintah serta larangan lainnya,
لَمَا أَجَابَهُ أَحَدٌ مِنْ هَؤُلَاءِ النَّافِرَةِ قُلُوبُهُمْ، الْمُخْتَلِفَةِ أَهْوَاؤُهُمْ، الَّذِينَ كَانُوا مُنْغَمِسِينَ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَضَالِيلِ،
niscaya tidak akan ada yang memenuhi (perintah itu) dari orang-orang yang hatinya berpaling, yang hawa nafsunya beragam, dan yang tenggelam dalam banyak kesesatan.
فَجَاءَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى رُوِّضَتْ عُقُولُهُمْ، وَهُذِّبَتْ نُفُوسُهُمْ،
Maka Rasulullah datang kepada mereka dengan ajaran sedikit demi sedikit hingga akal mereka terlatih dan jiwa mereka menjadi baik.
وَكَانَتِ الْأَحْكَامُ لَا يُنَزِّلُهَا اللَّهُ عَلَيْهِ إِلَّا عَقِبَ الْحَوَادِثِ الَّتِي تَقْتَضِيهَا، لِيَكُونَ التَّأْثِيرُ فِي النُّفُوسِ أَشَدَّ،
Dan hukum-hukum tidak diturunkan kecuali setelah peristiwa yang menuntutnya, agar pengaruhnya lebih kuat dalam jiwa.
وَلَكِنَّ الْيَهُودَ أَرَادُوا غَلَّ يَدِ الْقُدْرَةِ عَنْ أَنْ تَفْعَلَ إِلَّا مَا يَشْتَهُونَ،
Namun orang-orang Yahudi ingin membatasi kekuasaan Allah agar tidak berbuat kecuali sesuai keinginan mereka.
وَقَدْ حَجَّهُمُ الْقُرْآنُ الشَّرِيفُ بِمَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ مِنْ أَنْفُسِهِمُ الْبُعْدَ عَنِ الْحَقِّ،
Dan Al-Qur’an telah membantah mereka dengan bukti bahwa mereka sendiri mengetahui dalam hati mereka bahwa mereka jauh dari kebenaran.
فَقَالَ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ: قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ،
Maka Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah: “Katakanlah, jika kampung akhirat di sisi Allah itu khusus untuk kalian, bukan untuk manusia lain, maka harapkanlah kematian jika kalian benar.”
ثُمَّ حَتَّمَ جَلَّ ذِكْرُهُ عَدَمَ إِجَابَتِهِمْ بِقَوْلِهِ: وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ،
Kemudian Allah menegaskan bahwa mereka tidak akan menjawabnya dengan firman-Nya: “Dan Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.”
فَلَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ عَلَى الْحَقِّ لَمَا تَأَخَّرُوا عَمَّا طُلِبَ مِنْهُمْ،
Seandainya mereka benar-benar merasa berada di atas kebenaran, tentu mereka tidak akan menunda apa yang diminta dari mereka.
وَلَمْ يُنْقَلْ لَنَا عَنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ أَنَّهُ تَمَنَّى ذَلِكَ وَلَوْ نُطْقًا بِاللِّسَانِ،
Dan tidak ada riwayat bahwa seorang pun dari mereka mengharapkan hal itu, walaupun hanya sekadar ucapan.
وَقَدْ تَبَيَّنَ الْهُدَى لِأَحَدِ رُؤَسَاءِ بَنِي قَيْنُقَاعَ وَهُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ،
Dan sungguh petunjuk telah tampak bagi salah satu pemimpin Bani Qainuqa’, yaitu Abdullah bin Salam.
فَتَرَكَ هَوَاهُ وَأَسْلَمَ بَعْدَ أَنْ سَمِعَ الْقُرْآنَ،
Lalu ia meninggalkan hawa nafsunya dan masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an.
بَعْدَ أَنْ كَانَ الْيَهُودُ يَعُدُّونَهُ مِنْ رُؤَسَائِهِمْ، عَدُّوهُ مِنْ سُفَهَائِهِمْ حِينَ بَلَغَهُمْ إِسْلَامُهُ،
Padahal sebelumnya orang Yahudi menganggapnya sebagai pemimpin mereka, namun setelah ia masuk Islam, mereka menganggapnya sebagai orang bodoh.
فَبِئْسَ مَا اشْتَرَوْا لِأَنْفُسِهِمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا،
Maka sungguh buruk apa yang mereka beli untuk diri mereka sendiri, yaitu kekafiran terhadap apa yang Allah turunkan karena kedengkian.
وَلَمَّا اسْتَحْكَمَتْ فِي قُلُوبِهِمْ عَدَاوَةُ الْإِسْلَامِ صَارُوا يَجْهَدُونَ أَنْفُسَهُمْ فِي إِطْفَاءِ نُورِهِ،
Dan ketika kebencian terhadap Islam telah mengakar kuat dalam hati mereka, mereka pun berusaha keras untuk memadamkan cahayanya.
فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ، فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ.
Maka orang-orang yang zalim itu mengganti perkataan yang diperintahkan kepada mereka, lalu Kami turunkan kepada mereka azab dari langit disebabkan kefasikan mereka.
