Bahaya Kaum Munafik di Madinah dan Sikap Rasulullah dalam Menghadapinya
ٱلْمُنَافِقُونَ
Orang-Orang Munafiq
وَكَانَ يُسَاعِدُهُمْ عَلَى مَقَاصِدِهِمْ جَمَاعَةٌ مِنْ عَرَبِ ٱلْمَدِينَةِ أَعْمَى ٱللَّهُ بَصَائِرَهُمْ، فَأَخْفَوْا كُفْرَهُمْ خَوْفًا عَلَى حَيَاتِهِمْ، وَكَانَ يَرْأَسُ هَذِهِ ٱلْجَمَاعَةَ عَبْدُ ٱللَّهِ بْنُ أُبَيِّ بْنِ سَلُولٍ ٱلْخَزْرَجِيُّ ٱلَّذِي كَانَ مُرَشَّحًا لِرِيَاسَةِ أَهْلِ ٱلْمَدِينَةِ قَبْلَ هِجْرَةِ رَسُولِ ٱللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan yang membantu mereka mencapai tujuan-tujuan mereka adalah sekelompok orang Arab Madinah yang Allah butakan mata hati mereka. Mereka menyembunyikan kekafiran mereka karena takut terhadap keselamatan hidup mereka. Pemimpin kelompok ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Khazraji, yang sebelumnya pernah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin penduduk Madinah sebelum hijrahnya Rasulullah ﷺ.
وَلَا شَكَّ أَنَّ ضَرَرَ ٱلْمُنَافِقِينَ أَشَدُّ عَلَى ٱلْمُسْلِمِينَ مِنْ ضَرَرِ ٱلْكُفَّارِ، لِأَنَّ أُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ بَيْنَ ٱلْمُسْلِمِينَ فَيَعْلَمُونَ أَسْرَارَهُمْ، وَيُشِيعُونَهَا بَيْنَ ٱلْأَعْدَاءِ مِنَ ٱلْيَهُودِ وَغَيْرِهِمْ كَمَا حَصَلَ ذَٰلِكَ مِرَارًا.
Dan tidak diragukan lagi bahwa bahaya orang-orang munafik terhadap kaum muslimin lebih besar daripada bahaya orang-orang kafir, karena mereka masuk di tengah-tengah kaum muslimin sehingga mengetahui rahasia-rahasia mereka, lalu menyebarkannya kepada musuh-musuh dari kalangan Yahudi dan selain mereka, sebagaimana hal itu telah berulang kali terjadi.
وَٱلْأَسَاسُ ٱلَّذِي كَانَ عَلَيْهِ رَسُولُ ٱللَّهِ أَنْ يَقْبَلَ مَا ظَهَرَ وَيَتْرُكَ لِلَّهِ مَا بَطَنَ، وَلَٰكِنَّهُ عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ مَعَ ذَٰلِكَ كَانَ لَا يَأْمَنُهُمْ فِي عَمَلٍ مَا.
Prinsip yang dipegang Rasulullah adalah menerima apa yang tampak dan menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah. Akan tetapi, meskipun demikian, beliau ﷺ tetap tidak mempercayai mereka dalam suatu tugas tertentu.
فَكَثِيرًا مَا كَانَ يَتَغَيَّبُ عَنِ ٱلْمَدِينَةِ، وَيُوَلِّي عَلَيْهَا بَعْضَ ٱلْأَنْصَارِ، وَلَٰكِنْ لَمْ يُعْهَدْ أَنَّهُ وَلَّىٰ رَجُلًا مِمَّنْ عُهِدَ عَلَيْهِ ٱلنِّفَاقُ، لِأَنَّهُ عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ يَعْلَمُ مَا يَكُونُ مِنْهُمْ لَوْ وُلُّوا عَمَلًا، فَإِنَّهُمْ بِلَا شَكٍّ يَتَّخِذُونَ ذَٰلِكَ فُرْصَةً لِإِضْرَارِ ٱلْمُسْلِمِينَ.
Sering kali beliau meninggalkan Madinah dan menunjuk sebagian kaum Anshar untuk menggantikan beliau. Namun, tidak pernah diketahui bahwa beliau menunjuk seseorang yang dikenal memiliki sifat munafik, karena beliau ﷺ mengetahui apa yang akan mereka lakukan apabila diberi jabatan. Tanpa diragukan lagi, mereka akan menjadikan jabatan itu sebagai kesempatan untuk membahayakan kaum muslimin.
وَهَذَا دَرْسٌ مُهِمٌّ لِرُؤَسَاءِ ٱلْإِسْلَامِ يُعَلِّمُهُمْ أَنَّهُمْ لَا يَثِقُونَ فِي ٱلْأَعْمَالِ ٱلْمُهِمَّةِ إِلَّا بِمَنْ لَمْ تَظْهَرْ عَلَيْهِمْ شُبْهَةُ ٱلنِّفَاقِ أَوْ إِظْهَارُ مَا يُخَالِفُ مَا فِي ٱلْفُؤَادِ.
Dan ini merupakan pelajaran penting bagi para pemimpin Islam, yang mengajarkan agar mereka tidak mempercayakan tugas-tugas penting kecuali kepada orang-orang yang tidak tampak pada diri mereka tanda-tanda kemunafikan atau menampakkan sesuatu yang berbeda dengan isi hati mereka
___________________
___________________
مُعَاهَدَةُ ٱلْيَهُودِ
Perjanjian dengan Orang-Orang Yahudi
هَذَا وَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّهُ كَانَ يُضَادُّ ٱلْمُسْلِمِينَ فِي ٱلْمَدِينَةِ فِئَتَانِ: ٱلْيَهُودُ، وَٱلْمُنَافِقُونَ، وَلَٰكِنَّ ٱلرَّسُولَ قَبِلَ مِنْ هَٰؤُلَاءِ ظَوَاهِرَهُمْ، وَعَقَدَ مَعَ أُولَٰئِكَ عَهْدًا مُقْتَضَاهُ تَرْكُ ٱلْحَرْبِ وَٱلْأَذَى.
Sebagaimana telah engkau ketahui, ada dua golongan di Madinah yang memusuhi kaum muslimin, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik. Akan tetapi, Rasulullah menerima apa yang tampak dari kaum munafik itu, dan mengadakan perjanjian dengan orang-orang Yahudi yang isinya adalah meninggalkan peperangan dan gangguan.
فَلَا يُحَارِبُهُمْ وَلَا يُؤْذِيهِمْ، وَلَا يُعِينُونَ عَلَيْهِ أَحَدًا، وَإِنْ دَهَمَهُ بِٱلْمَدِينَةِ عَدُوٌّ يَنْصُرُونَهُ، وَأَقَرَّهُمْ عَلَىٰ دِينِهِمْ.
Maka beliau tidak memerangi mereka dan tidak pula menyakiti mereka, serta mereka juga tidak boleh membantu siapa pun untuk memusuhi beliau. Dan apabila musuh menyerang beliau di Madinah, maka mereka wajib menolong beliau. Selain itu, beliau membiarkan mereka tetap memeluk agama merekaز
