Perang Badar Pertama (Badar Al-Ula): Pengejaran Kurz bin Jabir oleh Rasulullah


 غَزْوَةُ بَدْرٍ الْأُولَى

 Perang Badar Pertama

 وَبَعْدَ رُجُوعِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِقَلِيلٍ جَاءَ كُرْزُ بْنُ جَابِرٍ الْفِهْرِيُّ، وَأَغَارَ عَلَى سَرْحِ الْمَدِينَةِ وَهَرَبَ.

 Dan tidak lama setelah beliau ﷺ kembali, datanglah Kurz bin Jabir Al-Fihri, lalu ia menyerang ternak yang digembalakan milik penduduk Madinah dan kemudian melarikan diri.

 فَخَرَجَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَلَبِهِ، وَاسْتَخْلَفَ عَلَى الْمَدِينَةِ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ الْأَنْصَارِيَّ، وَحَمَلَ لِوَاءَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ.

 Maka Rasulullah ﷺ keluar untuk mengejarnya. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah Al-Anshari sebagai pengganti beliau di Madinah, dan panji perang beliau dibawa oleh Ali bin Abi Thalib.

 فَسَارَ حَتَّى بَلَغَ سَفْوَانَ، وَفَاتَهُ كُرْزٌ فَلَمْ يَلْقَ حَرْبًا.

 Beliau terus berjalan hingga sampai di Safwan, namun Kurz telah lolos darinya sehingga beliau tidak menemui peperangan.

 وَتُسَمَّى هَذِهِ الْغَزْوَةُ بَدْرًا الْأُولَى.

 Peristiwa ini disebut sebagai Perang Badar Pertama (Badar Al-Ula)

 ================================

 سَرِيَّةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ

وَفِي رَجَبٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ أَرْسَلَ سَرِيَّةً عِدَّتُهَا ثَمَانِيَةُ رِجَالٍ، يَرْأَسُهَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَحْشٍ، وَأَعْطَاهُ كِتَابًا مَخْتُومًا لَا يَفُضُّهُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَسِيرَ يَوْمَيْنِ ثُمَّ يَنْظُرَ فِيهِ

Pada bulan Rajab tahun ini, Rasulullah ﷺ mengirim sebuah pasukan kecil yang berjumlah delapan orang, dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy. Beliau memberinya sebuah surat yang tersegel dan memerintahkannya agar tidak membukanya kecuali setelah berjalan selama dua hari, kemudian membacanya.

فَسَارَ عَبْدُ اللَّهِ يَوْمَيْنِ، ثُمَّ فَتَحَ الْكِتَابَ فَإِذَا فِيهِ: «إِذَا نَظَرْتَ كِتَابِي هَذَا فَامْضِ حَتَّى تَنْزِلَ نَخْلَةَ، فَتَرَصَّدْ بِهَا قُرَيْشًا وَتَعَلَّمْ لَنَا مِنْ أَخْبَارِهِمْ».

Maka Abdullah berjalan selama dua hari, lalu membuka surat tersebut. Ternyata isinya: “Apabila engkau telah membaca suratku ini, maka lanjutkan perjalanan hingga tiba di Nakhlah. Di sana awasilah Quraisy dan carilah informasi tentang mereka untuk kami.”

وَإِنَّمَا لَمْ يُخْبِرْهُمْ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِمَقْصِدِهِمْ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَذَرًا مِنْ شُيُوعِ الْخَبَرِ، فَيَدُلُّ عَلَيْهِمْ أَحَدُ الْأَعْدَاءِ مِنَ الْمُنَافِقِينَ أَوِ الْيَهُودِ فَتَتَرَصَّدَ لَهُمْ قُرَيْشٌ.

Rasulullah ﷺ tidak memberitahukan tujuan mereka ketika masih berada di Madinah karena khawatir berita tersebut tersebar, sehingga salah seorang musuh dari kalangan munafik atau Yahudi dapat membocorkannya kepada Quraisy yang kemudian akan mengintai mereka.

وَلَا يَخْفَى أَنَّ عَدَدَ السَّرِيَّةِ قَلِيلٌ لَا يُمْكِنُهُ الْمُقَاوَمَةُ.

Tidak diragukan lagi bahwa jumlah pasukan kecil itu sangat sedikit sehingga tidak akan mampu bertahan apabila menghadapi kekuatan besar.

ثُمَّ سَارَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَفِي أَثْنَاءِ السَّيْرِ تَخَلَّفَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعُتْبَةُ بْنُ غَزْوَانَ لِأَنَّهُمَا أَضَلَّا بَعِيرَهُمَا الَّذِي كَانَا يَعْتَقِبَانِهِ.

Kemudian Abdullah رضي الله عنه melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, Sa‘d bin Abi Waqqash dan ‘Utbah bin Ghazwan tertinggal karena mereka kehilangan unta yang mereka gunakan secara bergantian.

وَسَارَ الْبَاقُونَ حَتَّى وَصَلُوا نَخْلَةَ فَمَرَّتْ بِهِمْ عِيرٌ قُرَشِيَّةٌ تُرِيدُ مَكَّةَ فِيهَا عَمْرُو بْنُ الْحَضْرَمِيِّ، وَعُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ وَأَخُوهُ نَوْفَلٌ، وَالْحَكَمُ بْنُ كَيْسَانَ.

Sementara itu, anggota pasukan yang lain terus berjalan hingga tiba di Nakhlah. Di sana lewat sebuah kafilah Quraisy yang menuju Makkah. Dalam rombongan itu terdapat ‘Amr bin Al-Hadhrami, Utsman bin Abdullah bin Al-Mughirah, saudaranya Naufal, dan Al-Hakam bin Kaisan.

فَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ أَمْرَهُمْ عَلَى أَنْ يَحْمِلُوا عَلَيْهِمْ وَيَأْخُذُوا مَا مَعَهُمْ.

Lalu kaum Muslimin sepakat untuk menyerang mereka dan mengambil barang-barang yang mereka bawa.

فَحَمَلُوا عَلَيْهِمْ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ رَجَبٍ، فَقَتَلُوا عَمْرَو بْنَ الْحَضْرَمِيِّ، وَأَسَرُوا عُثْمَانَ وَالْحَكَمَ، وَهَرَبَ نَوْفَلٌ.

Mereka pun menyerang pada hari terakhir bulan Rajab. Dalam serangan itu mereka membunuh ‘Amr bin Al-Hadhrami, menawan Utsman dan Al-Hakam, sedangkan Naufal berhasil melarikan diri.

وَاسْتَاقُوا الْعِيرَ وَهِيَ أَوَّلُ غَنِيمَةٍ غَنِمَهَا الْمُسْلِمُونَ مِنْ أَعْدَائِهِمْ قُرَيْشٍ ثُمَّ رَجَعُوا.

Mereka membawa kafilah tersebut sebagai rampasan perang. Itulah harta rampasan pertama yang diperoleh kaum Muslimin dari musuh mereka, yaitu Quraisy. Setelah itu mereka kembali.

وَلَمْ يَتَمَكَّنِ الْمُشْرِكُونَ مِنَ اللِّحَاقِ بِهِمْ.

Kaum musyrik tidak mampu mengejar mereka.

فَلَمَّا قَدِمُوا الْمَدِينَةَ وَشَاعَ أَنَّهُمْ قَاتَلُوا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَعَابَتْهُمُ قُرَيْشٌ وَالْيَهُودُ بِذَلِكَ، عَنَّفَهُمُ الْمُسْلِمُونَ.

Ketika mereka tiba di Madinah dan tersebar berita bahwa mereka telah berperang pada bulan-bulan haram, Quraisy dan kaum Yahudi mencela mereka karena hal tersebut, bahkan kaum Muslimin sendiri menegur mereka.

وَقَالَ لَهُمْ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «مَا أَمَرْتُكُمْ بِقِتَالٍ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ».

Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: “Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang pada bulan-bulan haram.”

فَنَدِمُوا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ: ﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ﴾.

Mereka pun menyesal. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah:

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: berperang pada bulan itu adalah dosa besar. Tetapi menghalangi manusia dari jalan Allah, kufur kepada-Nya, menghalangi manusia dari Masjidil Haram, dan mengusir penduduknya darinya, itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.”

فَسُرِّيَ عَنْهُمْ.

Maka dengan turunnya ayat tersebut, hilanglah kesedihan dan kegelisahan mereka.

وَقَدْ طَلَبَ الْمُشْرِكُونَ فِدَاءَ أَسِيرَيْهِمَا، فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «حَتَّى يَرْجِعَ سَعْدٌ وَعُتْبَةُ».

Kaum musyrik kemudian meminta agar kedua tawanan mereka ditebus. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tunggulah sampai Sa‘d dan ‘Utbah kembali.”

فَلَمَّا رَجَعَا قَبِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْفِدْيَةَ فِي الْأَسِيرَيْنِ.

Setelah Sa‘d dan ‘Utbah kembali, Rasulullah ﷺ menerima tebusan untuk kedua tawanan tersebut.

فَأَمَّا الْحَكَمُ بْنُ كَيْسَانَ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ مَعَ الْمُسْلِمِينَ.

Adapun Al-Hakam bin Kaisan, ia masuk Islam dan menjadi seorang Muslim yang baik.

وَأَمَّا عُثْمَانُ فَلَحِقَ بِمَكَّةَ كَافِرًا.

Sedangkan Utsman kembali ke Makkah dalam keadaan tetap kafir. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url